Billboard Ads

Keberadaan Mbah Syahid Kemadu, telah menandai adanya karakteristik dari tipologi Kiai di tengah tradisi pesantren. Kondisi keberadaan Mbah Syahid ini sekaligus menolak simpulan teori antropologi sebagaimana yang dikatakan oleh Clifford Geertz dalam proses pembangunan, yaitu sebagai ‘makelar budaya’ (cultural broker).

Ubaidillah Achmad
Ubaidillah Achmad
Oleh: Ubaidillah Achmad
Dengan adanya gerakan radikalisasi agama dan gerakan wahabi Indonesia, telah menyisakan kekhawatiran sebagian umat Islam. Sehubungan dengan fenomena ini, maka perlu mengetengahkan bangunan tradisi pesantren yang menarik dari Mbah KH. A. Syahid Kemadu. Karena keberkahan ilmu beliau, maka banyak masyarakat sekitar Rembang dan beberapa santri luar kota masih tekun belajar ilmu agama, belajar ketrampilan, dan belajar ilmu pengetahuan di pesantren beliau.

Selain pesantren, Mbah KH. A. Syahid, telah meninggalkan banyak kenangan keilmuan dan perspektif kebudayaan santri yang orisinil dari khazanah tradisi pesantren Nahdlatul Ulama. Berikut ini beberapa sub judul yang dapat dipetik dari pesan beliau yang masih penulis ingat hingga sekarang. Catatan ini, penulis rujuk dari uraian beliau secara langsung, ketika beliau menyampaikan hikmah dari uraian kajian kitab min hajul abidin yang hingga larut malam. pada saat ini, penulis masih usia kelas satu aliyah.

Keutmaan Bani Adam

Mbah Syahid selalu mengutip QS. Al Isra’ [17]: 70, berisi penegasan Allah yang benar benar telah memuliakan anak cucu Adam. Karenanya, umat Islam harus yakin terhadap sifat dan anugrah kemuliaan dari Allah Jalla Jalaluhu. Konsekuensi menerima kemuliaan itu dengan cara berikut: beribadah dengan penuh keyakinan Iman (iman), penuh ketundukan, kepasrahan dan kecondongan kepada Allah (Islam), kehadiran dihadapan Allah (ihsan).

Meskipun demikian, seorang manusia harus mensinergiskan percontohan sikap beribadah dengan menjaga amanah kekhalifahan dari Allah. Model pelaksanaan amanah ini, adalah menjaga kelangsungan relasi suci kosmologi yang saling terkait dan memiliki fungsi yang berbeda beda. Selain itu, setiap manusia berkewajiban melaksanakan darman kehidupan, berupa darma kemanusiaan, keadilan dan persamaan.

Karenanya, setiap hamba Allah Jalla Jalaluhu tidak boleh merasakan minder dan takut dengan yang lain. Kebaikan kepada yang lain, bertujuan untuk memberikan penghormatan antar sesama umat manusia, bukan karena kekerdilan sikap yang merasakan khawatir akan tergeser oleh pihak yang lain. Dengan demikian, seseorang boleh berada di tengah perbedaan keyakinan dan agama, namun seseorang tidak boleh merendahkan sesama umat manusia yang memiliki dua unsur: unsur kealaman dan unsur yang langsung dengan keputusan-Nya.

Jangankan perbedaan penafsiran dan pendapat, perbedaan yang sangat sakral pun yang berupa keyakinan, adalah tidak boleh mengganggu hubungan kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar sesama umat manusia. Perbedaan keyakinan antara umat Islam dengan keyakinan yang lain, sebagai umat Islam harus mengawal kelangsungan risalah kenabian Siyyidil Mustafa Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh penghuni alam raya (QS. Al Anbiya [21]: 107), dalam konteks kemanusiaan maupun lingkungan lestari yang menopang kelangsungan eko-sistem.

Hal yang sama, yang selalu dalam penegasan pendampingan Mbah KH. A. Syahid, adalah dalam konteks kelangsungan hidup sebagai umat manusia. Dalam konteks ini, Mbah KH. A Syahid selalu menegaskan, agar manusia tidak khawatir dengan masa depan hidupnya selama masih di dunia, karena Allah sudah mengatur apa yang terbaik untuk hambanya (kawulane) sesuai dengan teks kewahyuan QS. Al Isra’ [17]: 70. Jadi, manusia adalah hamba Allah (kawulane Allah), maka Allah sudah merancang dan mengatur hal-hal penting untuk hambanya sendiri.

Sebagai Dzat yang Al Khaliq, telah memberikan anugrah kepada manusia yang perlu mendapatkan respon positif dari manusia sesuai dengan perintah dan akhlak risalah kenabian. Sehubungan dengan melaksanakan perintah dan risalah kenabian, bukan berarti merasakan suci dan paling benar sendiri versus pihak yang lain yang telah berbuat kesalahan.

Sehubungan dengan perbuatan baik kita, bukan kita sendiri yang menilai, namun Allah sendirilah yang akan menilai bersamaan hasil pendampingan para Malaikat. Pihak lain dari sesama umat manusia, juga akan menjadi refrensi catatan para Malaikat tentang diri kita: apakah kita sudah memperlakukan pihak yang lain secara manusiawi, adil, dan memperlakukan yang lain memiliki kesamaan harkat dan martabat sebagai manusia? Jadi, Allah Jalla Jalaluhu akan mencatat amal manusia yang terhubung dengan Allah dan yang terhubung dengan manusia. Amal yang menjadi ikatan dengan manusia memiliki dua aspek:

Pertama, ketika kita mengajak bersama sesama umat manusia melakukan kebajikan dan keutamaan hidup. Aspek pertama ini menjadi darma hidup yang baik, baik dilaksanakan subjek yang lain atau tidak dilaksanakannya. Kedua, ketika kita tetap menempatkan kemuliaan diri seorang manusia yang telah ditetapkan dalam QS. Al Isra’ [17]: 70. Karenanya, jangan sampai para pengikut risalah kenabian dan penerus para kiai di lingkungan pesantren, telah melaksanakan aspek yang pertama, namun telah mengabaikan aspek yang kedua. Kedua aspek ini merupakan prinsip yang sama-sama harus dilaksanakan dengan baik, karena keduanya masuk dalam catatan di antara kedua Malaikat, bernama: Raqib dan Atid.  

Oleh karena itu, manusia yang melaksanakan kedua aspek tersebut di atas, secara otomatis akan mendapatkan tiga keuntungan yang bersumber langsung dari Allah: pertama, merasakan anugrah kemuliaan sebagai anak cucu Adam. Kedua, merasakan ridlau dan pahala dari Allah. Ketiga, mendapatkan arus deras do’a umat Islam.

Sehubungan dengan aspek yang ketiga, umat Islam yang berbuat kebaikan dan amal shaleh, akan mendapatkan do’a dari seluruh umat Islam melalui kalimat yang dibaca pada saat Shalat, setelah shalat, pada saat khatbah hari Jumah dan khatbah hari raya idul adlha dan idul fitri. Selain itu, umat Islam yang melakukan darma kebaikan, maka juga akan mendapatkan do’a dari mereka yang mendoakan umat Islam dan semua umat manusia yang mendoakan seluruh para pelaku kebaikan dan keutamaan hidup.

Jika sudah berbuat kebaikan tersebut, maka seseorang tidak perlu ketakutan adanya ancaman dari pihak-pihak pelaku kekerasan, baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Yang lebih menarik dari perspektif prinsip nilai kebanaran ini, Mbah Syahid, juga menegaskan, bahwa berdzikir itu tidak hanya menyebutkan kalimat dzikir, berupa kalimat: tasbih, hamdlalah, tauhid, takbir, dan shalawat, namun juga harus tetap bersikap dan berperilaku sesuai dengan prinsip fitrah kebenaran. Artinya, berbuat keutamaan dan kebaikan dengan menjaga kelangsungan relasi suci dengan Allah, sesama umat manusia, dan kesemestaan (kosmologi), juga merupakan dzikir kepada Allah.

“Suhanallah, mengingat Mbah Syahid terasa indah dan ada sebuah kedamain yang sempurna dengan usapan linangan tetesan air mata kerinduan dengan Sang Salik Agung dari Kemadu Rembang,” demikian ungkap beberapa teman pada saat bertemu di makam beliau. Penulis pun tidak kuasa menahan kerinduan kepada seorang Guru dan pendamping yang terus fenomenal untuk diingat hingga di tengah radikalisasi agama. Khadrah untukmu Guruku, Sang Salik Mursyid para pecinta kebenaran.     


Budaya Kiai-Santri

Keberadaan Mbah Syahid Kemadu, telah menandai adanya karakteristik dari tipologi Kiai di tengah tradisi pesantren. Kondisi keberadaan Mbah Syahid ini sekaligus menolak simpulan teori antropologi sebagaimana yang dikatakan oleh Clifford Geertz dalam proses pembangunan, yaitu sebagai ‘makelar budaya’ (cultural broker).

Teori Geertz juga berbeda dengan teori Horikoshi. Horikoshi menempatkan kiai di satu sisi sebagai symbol perlawanan terhadap budaya, namun di sisi yang lain juga berkompromi dengan kebudayaan masyarakat. Katagori Geertz terhadap peranan Kiai ini dipahami oleh Gus Dur, telah menunjukkan keberadaan para kyai yang berperan sebagai dam (bendungan) yang “menampung” banyak manivestasi (kehadiran) budaya baru dan sekaligus melepas sebagian dari manivestasi budaya baru tersebut. Meskipun demikian, Gus Dur tidak sependapat dengan teori Geertz.

Jika Geertz benar, maka secara otomatis mematikan peranan Kiai di tengah budaya masyarakat. Sementara itu, realitas telah menunjukkan kekuatan peranan Kiai di tengah budaya Masyarakat. Sebagaimana kemunculan Mbah Syahid merupakan bukti yang dapat mematahkan teori Gertz. Mbah Syahid bukan merupakan sosok yang memiliki peranan pasif, namun justru dapat menjadi tempat pembaharuan dan transformasi kebudayaan.

Mbah Syahid memiliki pertahanan dan ketajaman pengetahuan yang bersumber melalui ilmu kehadiran (khudluri) jiwa. Kepekaan dan ketajaman pengetahuan kehadiran ini yang telah menguatkan sebuah pengetahuan mendesak untuk disampaikan kepada masyarakat atau tidak perlu disampaikan kepada masyarakat. Ibarat dalam pewayangan, Mbah Syahid telah menunjukkan sebuah kemampuan merencana secara matang bagaimana merancang arsitektur dan symbol budaya pesantren di tengah perkembangan kearifan lokal.

Bagaimana Mbah Syahid mendesain bangunan kejiwaan para santri? Para santri merupakan seorang salik yang mengarungi bahtera kehidupan yang berhadapan dengan angin besar, dan gulungan ombak lautan, dan suasana malam yang mencekam. Ilustrasi Mbah Syahid seperti ini ditunjukkan kepada para santri supaya selalu tegap dan tidak goyah hanya karena bungkusan berkatan dari hajatan masyarakat.

Ada tujuan utama para santri yang harus diperhatikan dalam kondisi apapun, berupa tujuan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup menangkap rahasia relasi kosmologis yang sudah dijelaskan melalui teks kewahyuan dan kawasan kewahyuan. Meskipun demikian, sebagai santri harus yakin dan bersyukur menerima anugrah terbesar dari Allah Jalla Jalaluhu, yaitu sebagai penciptaan yang benar-benar telah dimuliakan-Nya.

Pasemon Santri Buki

Mbah Syahid selalu menegaskan kata-kata berhikmah dan rahasia kesufian bersama para santri. Penegasan ini lebih sering disampaikan pada saat mengulas rahasia kalimat-kalimat dzikir dan materi kajian kitab kuning tentang rahasia berperilaku baik kepada Allah dan kepada sesama umat manusia.
Salah satu kata kata berhikmah penuh yang membentuk nilai kekhasan budaya para santri, berupa kata, “jangan menjadi santri buki: yen ana berkat nibo tangi.” Artinya, jangan menjadi santri yang pada saat melihat berkat saja sudah berjatuhan dan bangun, sehingga kehilangan karakter dan kekhasan keseimbangan psikis dan kesempurnaan kepribadian sebagai seorang santri.

Sehubungan dengan ungkapan Mbah Syahid, sebagaimana yang penulis tejemahkan ini, sering beliau ungkapkan ketika menggambarkan peran seorang santri di tengah masyarakat transisional versus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta system permodalan yang telah menawarkan sejuta penawaran tentang kesejahteraan dan lapangan pekerjaaan. Sementara itu, tidak sesuai dengan tradisi pesantren dan cita-cita luhur para Ulama yang mencapai martabat kewalian dan kiai yang dipercaya masyarakatnya.

Bagi Mbah Syahid, seorang santri tidak saja sekedar untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan (tafaqquh Fiddiin), namun sebagai seorang santri juga harus benar-benar tekun dan berusaha segenap jiwa dan raga untuk membentuk keseimbangan jiwa dan kesempurnaan kepribadian serta membentuk pandangan hidup. Pandangan dan sikap ini harus dibentuk melalui olah raga dan olah jiwa.

Model olah raga yang baik, berupa riyadlah menahan nafsu jangan sampai mengikuti kehendak imajinasi (hawa) dan kehendak biologis (syahwat). Kedua kehendak ini merupakan bentuk makhluk asing yang sewaktu-waktu akan menerkam kita. Jika kedua kehendak ini sudah menerkam atau merasuki fisik atau raga manusia, maka setiap manusia yang kerasuki akan tidak berdaya menahannya dan terus melakukan sikap perbuatan yang negatif atau buruk. Dengan demikian, yang dimaksud dengan olah raga, adalah mengolah raga untuk steril dari nafsu imajinatif dan nafsu syahwat.

Oleh karena itu, Mbah Syahid, selalu menegur para santri yang ketika terlihat melamun, “la waktu mbok enggu ngalamun, ngudi ilmu kuwi kudu mawi cara sing bener, luweh apik bok enggo maca al quran utawa moca shalawat. Urip ana ing pandak kuwi ojo podo disia-siake. Yen ora tenanan, mengko kuwe ora podo ngrasakke hakikate kauripan nyarujuk ona ing ngersane Allah dan lumaku ana ing kahanane kauripan masyarakat. Aja podo dadi santri buki: yen ana berkat poda nibo lan tangi”.

Artinya, bagaimana mungkin kalian menggunakan waktu belajar dengan cara melamun? Belajar itu harus dengan cara yang benar, seperti untuk membaca teks kewahyuan dan membaca shalawat. Hidup di lingkungan tradisi pesantren itu jangan disia-siakan. Sebab, jika tidak sungguh-sungguh, maka kalian tidak akan merasakan hakikat hidup yang sesuai dengan ketepatan menjaga relasi suci bersama Allah dan sesama umat Islam. Jangan menjadi santri buki, jika ada makanan pada kehilangan kekhasan dan karakter sebagai santri.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, dapat dipahami, Mbah Syahid ingin supaya sebagai santri dapat memiliki kesempumaan pandangan hidup tersebut (washilun) melalui jalan yang benar dan cara yang benar (salikun). Kawasan pesantren yang beliau kelola sering tidak beliau namai sebagai pesantren, namun beliau sebut sebagai mushalla atau langgar yang lebih menekankan untuk mendidik akhlakul karimah, sikap atau kepribadian seorang santri yang berkarakter, tidak mudah digoyang oleh budaya di tengah lingkungan masyarakat sendiri dan budaya di luar masyarakat sendiri.

Jadi, santri adalah seorang yang menuntut ilmu kemuliaan dan nilai-nilai keutamaan yang sudah diwariskan para Nabi, Wali dan Ahli Hikmah, sehingga akan sampai pada kebenaran itu sendiri. Modeling Mbah Syahid ini dapat dipahami dari perspektif Gus Dur, bahwa ikatan nilai antara tema pencarian kebenaran oleh kedua belah pihak, yaitu antara santri dan Kiai merupakan dua belah sisi yang bagaimanapun juga berwajah budaya. Corak analisis Gus Dur inilah yang telah disebut banyak peneliti dari kalangan antropolog dan sosiologi dengan istilah budaya santri. Istilah adanya budaya santripun sudah dapat dipahami di lingkungan masyarakat pesantren.

Khazanah Islam Nusantara

Kehadiran Mbah Syahid pada zamannya dan zaman para santri yang pernah dibimbing beliau merupakan khazanah Islam Nusantara. Mereka ini telah menandai keberlangsungan tradisi dan budaya santri di lingkungan masyarakat pesantren. Fungsi keberadaan Mbah KH. A. Syahid dan ajarannya, tidak menolak kebudayaan seperti sebuah bendungan yang tinggi, namun juga tidak menerima bendungan yang menjadi arus besar setiap kebudayaan masyarakat.

Sebagai arsitek atau model keberagamaan di tengah tradisi pesantren, Mbah KH. A. Syahid Kemadu memberikan sebuah penegasan, agar menjadi santri yang tidak berada pada kipasan teks kosong tanpa hakikat makna kewahyuan. Teks kewahyuan itu harus dipahami dari konteks penunjukan pada prinsip kebenaran dan nilai kearifan atau hikmah kehidupan.

Jika teks suci dibiarkan kosong tanpa relasi makna dengan yang telah ditunjuknya, maka teks suci itu hanya akan dijadikan pembenaran kehendak fasisme politik. Jika fungsi teks suci dibelokkan untuk pembenaran kehendak fasisme politik, maka teks suci ini justru akan menghijab antara relasi suci manusia dengan Allah, sesama manusia dan kesemestaan.

Ubaidillah Achmad
Ubaidillah Achmad
Mbah KH. A. Syahid Kemadu merupakan model atau percontohan untuk para santri di lingkungan pesantren, agar tidak menjadikan teks suci kosong dari relasi makna yang ditunjuk Allah. Sebagai sebuah percontohan keberagamaan, beliau tidak pernah membedakan antar para santri dan semua tamu dari kompleksitas masyarakat. Jika para tamu, adalah mereka yang memiliki berbagai macam corak budaya dan kepentingan, maka kesemua dari para tamu akan tetap melihat beliau sebagai model  atau panutan yang berwajah berseri penuh senyum yang terbaca selalu bersyukur kepada Allah: Alhamdlulillah.

Keberadaan Mbah KH. A. Syahid, telah membacakan teks dengan relevansi makna dan hikmah kehidupan yang ditunjuk teks kewahyuan. Mbah A. Syahid adalah pelaku yang membacakan teks suci zamannya dan zaman sesudah beliau wafat. Subhanallah, prinsip akhlakul karimah merupakan prinsip yang beliau pegang sebagai medium proses kerja kebudayaan para santri di tengah masyarakat. Mbah KH. A. Syahid, Sang Salik Yang Menjadi Khazanah Islam Nusantara.

Penulis, Khadim omah Kongkow Majlis As Syuffah Rembang, Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng