KH. A. Syahid: Sang Arsitektur Budaya Islam Nusantara

Selain pesantren, Mbah KH. A. Syahid, telah meninggalkan banyak kenangan keilmuan dan perspektif kebudayaan santri yang orisinil dari khazanah tradisi pesantren Nahdlatul Ulama.

Keberadaan Mbah Syahid Kemadu, telah menandai adanya karakteristik dari tipologi Kiai di tengah tradisi pesantren. Kondisi keberadaan Mbah Syahid ini sekaligus menolak simpulan teori antropologi sebagaimana yang dikatakan oleh Clifford Geertz dalam proses pembangunan, yaitu sebagai ‘makelar budaya’ (cultural broker).

Ubaidillah Achmad
Ubaidillah Achmad
Oleh: Ubaidillah Achmad
Dengan adanya gerakan radikalisasi agama dan gerakan wahabi Indonesia, telah menyisakan kekhawatiran sebagian umat Islam. Sehubungan dengan fenomena ini, maka perlu mengetengahkan bangunan tradisi pesantren yang menarik dari Mbah KH. A. Syahid Kemadu. Karena keberkahan ilmu beliau, maka banyak masyarakat sekitar Rembang dan beberapa santri luar kota masih tekun belajar ilmu agama, belajar ketrampilan, dan belajar ilmu pengetahuan di pesantren beliau.

Selain pesantren, Mbah KH. A. Syahid, telah meninggalkan banyak kenangan keilmuan dan perspektif kebudayaan santri yang orisinil dari khazanah tradisi pesantren Nahdlatul Ulama. Berikut ini beberapa sub judul yang dapat dipetik dari pesan beliau yang masih penulis ingat hingga sekarang. Catatan ini, penulis rujuk dari uraian beliau secara langsung, ketika beliau menyampaikan hikmah dari uraian kajian kitab min hajul abidin yang hingga larut malam. pada saat ini, penulis masih usia kelas satu aliyah.

Keutmaan Bani Adam

Mbah Syahid selalu mengutip QS. Al Isra’ [17]: 70, berisi penegasan Allah yang benar benar telah memuliakan anak cucu Adam. Karenanya, umat Islam harus yakin terhadap sifat dan anugrah kemuliaan dari Allah Jalla Jalaluhu. Konsekuensi menerima kemuliaan itu dengan cara berikut: beribadah dengan penuh keyakinan Iman (iman), penuh ketundukan, kepasrahan dan kecondongan kepada Allah (Islam), kehadiran dihadapan Allah (ihsan).

Meskipun demikian, seorang manusia harus mensinergiskan percontohan sikap beribadah dengan menjaga amanah kekhalifahan dari Allah. Model pelaksanaan amanah ini, adalah menjaga kelangsungan relasi suci kosmologi yang saling terkait dan memiliki fungsi yang berbeda beda. Selain itu, setiap manusia berkewajiban melaksanakan darman kehidupan, berupa darma kemanusiaan, keadilan dan persamaan.

Karenanya, setiap hamba Allah Jalla Jalaluhu tidak boleh merasakan minder dan takut dengan yang lain. Kebaikan kepada yang lain, bertujuan untuk memberikan penghormatan antar sesama umat manusia, bukan karena kekerdilan sikap yang merasakan khawatir akan tergeser oleh pihak yang lain. Dengan demikian, seseorang boleh berada di tengah perbedaan keyakinan dan agama, namun seseorang tidak boleh merendahkan sesama umat manusia yang memiliki dua unsur: unsur kealaman dan unsur yang langsung dengan keputusan-Nya.

Jangankan perbedaan penafsiran dan pendapat, perbedaan yang sangat sakral pun yang berupa keyakinan, adalah tidak boleh mengganggu hubungan kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar sesama umat manusia. Perbedaan keyakinan antara umat Islam dengan keyakinan yang lain, sebagai umat Islam harus mengawal kelangsungan risalah kenabian Siyyidil Mustafa Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh penghuni alam raya (QS. Al Anbiya [21]: 107), dalam konteks kemanusiaan maupun lingkungan lestari yang menopang kelangsungan eko-sistem.

Hal yang sama, yang selalu dalam penegasan pendampingan Mbah KH. A. Syahid, adalah dalam konteks kelangsungan hidup sebagai umat manusia. Dalam konteks ini, Mbah KH. A Syahid selalu menegaskan, agar manusia tidak khawatir dengan masa depan hidupnya selama masih di dunia, karena Allah sudah mengatur apa yang terbaik untuk hambanya (kawulane) sesuai dengan teks kewahyuan QS. Al Isra’ [17]: 70. Jadi, manusia adalah hamba Allah (kawulane Allah), maka Allah sudah merancang dan mengatur hal-hal penting untuk hambanya sendiri.

Sebagai Dzat yang Al Khaliq, telah memberikan anugrah kepada manusia yang perlu mendapatkan respon positif dari manusia sesuai dengan perintah dan akhlak risalah kenabian. Sehubungan dengan melaksanakan perintah dan risalah kenabian, bukan berarti merasakan suci dan paling benar sendiri versus pihak yang lain yang telah berbuat kesalahan.

Sehubungan dengan perbuatan baik kita, bukan kita sendiri yang menilai, namun Allah sendirilah yang akan menilai bersamaan hasil pendampingan para Malaikat. Pihak lain dari sesama umat manusia, juga akan menjadi refrensi catatan para Malaikat tentang diri kita: apakah kita sudah memperlakukan pihak yang lain secara manusiawi, adil, dan memperlakukan yang lain memiliki kesamaan harkat dan martabat sebagai manusia? Jadi, Allah Jalla Jalaluhu akan mencatat amal manusia yang terhubung dengan Allah dan yang terhubung dengan manusia. Amal yang menjadi ikatan dengan manusia memiliki dua aspek:

Pertama, ketika kita mengajak bersama sesama umat manusia melakukan kebajikan dan keutamaan hidup. Aspek pertama ini menjadi darma hidup yang baik, baik dilaksanakan subjek yang lain atau tidak dilaksanakannya. Kedua, ketika kita tetap menempatkan kemuliaan diri seorang manusia yang telah ditetapkan dalam QS. Al Isra’ [17]: 70. Karenanya, jangan sampai para pengikut risalah kenabian dan penerus para kiai di lingkungan pesantren, telah melaksanakan aspek yang pertama, namun telah mengabaikan aspek yang kedua. Kedua aspek ini merupakan prinsip yang sama-sama harus dilaksanakan dengan baik, karena keduanya masuk dalam catatan di antara kedua Malaikat, bernama: Raqib dan Atid.  

Oleh karena itu, manusia yang melaksanakan kedua aspek tersebut di atas, secara otomatis akan mendapatkan tiga keuntungan yang bersumber langsung dari Allah: pertama, merasakan anugrah kemuliaan sebagai anak cucu Adam. Kedua, merasakan ridlau dan pahala dari Allah. Ketiga, mendapatkan arus deras do’a umat Islam.

Sehubungan dengan aspek yang ketiga, umat Islam yang berbuat kebaikan dan amal shaleh, akan mendapatkan do’a dari seluruh umat Islam melalui kalimat yang dibaca pada saat Shalat, setelah shalat, pada saat khatbah hari Jumah dan khatbah hari raya idul adlha dan idul fitri. Selain itu, umat Islam yang melakukan darma kebaikan, maka juga akan mendapatkan do’a dari mereka yang mendoakan umat Islam dan semua umat manusia yang mendoakan seluruh para pelaku kebaikan dan keutamaan hidup.

Jika sudah berbuat kebaikan tersebut, maka seseorang tidak perlu ketakutan adanya ancaman dari pihak-pihak pelaku kekerasan, baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Yang lebih menarik dari perspektif prinsip nilai kebanaran ini, Mbah Syahid, juga menegaskan, bahwa berdzikir itu tidak hanya menyebutkan kalimat dzikir, berupa kalimat: tasbih, hamdlalah, tauhid, takbir, dan shalawat, namun juga harus tetap bersikap dan berperilaku sesuai dengan prinsip fitrah kebenaran. Artinya, berbuat keutamaan dan kebaikan dengan menjaga kelangsungan relasi suci dengan Allah, sesama umat manusia, dan kesemestaan (kosmologi), juga merupakan dzikir kepada Allah.

“Suhanallah, mengingat Mbah Syahid terasa indah dan ada sebuah kedamain yang sempurna dengan usapan linangan tetesan air mata kerinduan dengan Sang Salik Agung dari Kemadu Rembang,” demikian ungkap beberapa teman pada saat bertemu di makam beliau. Penulis pun tidak kuasa menahan kerinduan kepada seorang Guru dan pendamping yang terus fenomenal untuk diingat hingga di tengah radikalisasi agama. Khadrah untukmu Guruku, Sang Salik Mursyid para pecinta kebenaran.     


Budaya Kiai-Santri

Keberadaan Mbah Syahid Kemadu, telah menandai adanya karakteristik dari tipologi Kiai di tengah tradisi pesantren. Kondisi keberadaan Mbah Syahid ini sekaligus menolak simpulan teori antropologi sebagaimana yang dikatakan oleh Clifford Geertz dalam proses pembangunan, yaitu sebagai ‘makelar budaya’ (cultural broker).

Teori Geertz juga berbeda dengan teori Horikoshi. Horikoshi menempatkan kiai di satu sisi sebagai symbol perlawanan terhadap budaya, namun di sisi yang lain juga berkompromi dengan kebudayaan masyarakat. Katagori Geertz terhadap peranan Kiai ini dipahami oleh Gus Dur, telah menunjukkan keberadaan para kyai yang berperan sebagai dam (bendungan) yang “menampung” banyak manivestasi (kehadiran) budaya baru dan sekaligus melepas sebagian dari manivestasi budaya baru tersebut. Meskipun demikian, Gus Dur tidak sependapat dengan teori Geertz.

Jika Geertz benar, maka secara otomatis mematikan peranan Kiai di tengah budaya masyarakat. Sementara itu, realitas telah menunjukkan kekuatan peranan Kiai di tengah budaya Masyarakat. Sebagaimana kemunculan Mbah Syahid merupakan bukti yang dapat mematahkan teori Gertz. Mbah Syahid bukan merupakan sosok yang memiliki peranan pasif, namun justru dapat menjadi tempat pembaharuan dan transformasi kebudayaan.

Mbah Syahid memiliki pertahanan dan ketajaman pengetahuan yang bersumber melalui ilmu kehadiran (khudluri) jiwa. Kepekaan dan ketajaman pengetahuan kehadiran ini yang telah menguatkan sebuah pengetahuan mendesak untuk disampaikan kepada masyarakat atau tidak perlu disampaikan kepada masyarakat. Ibarat dalam pewayangan, Mbah Syahid telah menunjukkan sebuah kemampuan merencana secara matang bagaimana merancang arsitektur dan symbol budaya pesantren di tengah perkembangan kearifan lokal.

Bagaimana Mbah Syahid mendesain bangunan kejiwaan para santri? Para santri merupakan seorang salik yang mengarungi bahtera kehidupan yang berhadapan dengan angin besar, dan gulungan ombak lautan, dan suasana malam yang mencekam. Ilustrasi Mbah Syahid seperti ini ditunjukkan kepada para santri supaya selalu tegap dan tidak goyah hanya karena bungkusan berkatan dari hajatan masyarakat.

Ada tujuan utama para santri yang harus diperhatikan dalam kondisi apapun, berupa tujuan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup menangkap rahasia relasi kosmologis yang sudah dijelaskan melalui teks kewahyuan dan kawasan kewahyuan. Meskipun demikian, sebagai santri harus yakin dan bersyukur menerima anugrah terbesar dari Allah Jalla Jalaluhu, yaitu sebagai penciptaan yang benar-benar telah dimuliakan-Nya.

Pasemon Santri Buki

Mbah Syahid selalu menegaskan kata-kata berhikmah dan rahasia kesufian bersama para santri. Penegasan ini lebih sering disampaikan pada saat mengulas rahasia kalimat-kalimat dzikir dan materi kajian kitab kuning tentang rahasia berperilaku baik kepada Allah dan kepada sesama umat manusia.
Salah satu kata kata berhikmah penuh yang membentuk nilai kekhasan budaya para santri, berupa kata, “jangan menjadi santri buki: yen ana berkat nibo tangi.” Artinya, jangan menjadi santri yang pada saat melihat berkat saja sudah berjatuhan dan bangun, sehingga kehilangan karakter dan kekhasan keseimbangan psikis dan kesempurnaan kepribadian sebagai seorang santri.

Sehubungan dengan ungkapan Mbah Syahid, sebagaimana yang penulis tejemahkan ini, sering beliau ungkapkan ketika menggambarkan peran seorang santri di tengah masyarakat transisional versus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta system permodalan yang telah menawarkan sejuta penawaran tentang kesejahteraan dan lapangan pekerjaaan. Sementara itu, tidak sesuai dengan tradisi pesantren dan cita-cita luhur para Ulama yang mencapai martabat kewalian dan kiai yang dipercaya masyarakatnya.

Bagi Mbah Syahid, seorang santri tidak saja sekedar untuk menguasai ilmu-ilmu keagamaan (tafaqquh Fiddiin), namun sebagai seorang santri juga harus benar-benar tekun dan berusaha segenap jiwa dan raga untuk membentuk keseimbangan jiwa dan kesempurnaan kepribadian serta membentuk pandangan hidup. Pandangan dan sikap ini harus dibentuk melalui olah raga dan olah jiwa.

Model olah raga yang baik, berupa riyadlah menahan nafsu jangan sampai mengikuti kehendak imajinasi (hawa) dan kehendak biologis (syahwat). Kedua kehendak ini merupakan bentuk makhluk asing yang sewaktu-waktu akan menerkam kita. Jika kedua kehendak ini sudah menerkam atau merasuki fisik atau raga manusia, maka setiap manusia yang kerasuki akan tidak berdaya menahannya dan terus melakukan sikap perbuatan yang negatif atau buruk. Dengan demikian, yang dimaksud dengan olah raga, adalah mengolah raga untuk steril dari nafsu imajinatif dan nafsu syahwat.

Oleh karena itu, Mbah Syahid, selalu menegur para santri yang ketika terlihat melamun, “la waktu mbok enggu ngalamun, ngudi ilmu kuwi kudu mawi cara sing bener, luweh apik bok enggo maca al quran utawa moca shalawat. Urip ana ing pandak kuwi ojo podo disia-siake. Yen ora tenanan, mengko kuwe ora podo ngrasakke hakikate kauripan nyarujuk ona ing ngersane Allah dan lumaku ana ing kahanane kauripan masyarakat. Aja podo dadi santri buki: yen ana berkat poda nibo lan tangi”.

Artinya, bagaimana mungkin kalian menggunakan waktu belajar dengan cara melamun? Belajar itu harus dengan cara yang benar, seperti untuk membaca teks kewahyuan dan membaca shalawat. Hidup di lingkungan tradisi pesantren itu jangan disia-siakan. Sebab, jika tidak sungguh-sungguh, maka kalian tidak akan merasakan hakikat hidup yang sesuai dengan ketepatan menjaga relasi suci bersama Allah dan sesama umat Islam. Jangan menjadi santri buki, jika ada makanan pada kehilangan kekhasan dan karakter sebagai santri.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, dapat dipahami, Mbah Syahid ingin supaya sebagai santri dapat memiliki kesempumaan pandangan hidup tersebut (washilun) melalui jalan yang benar dan cara yang benar (salikun). Kawasan pesantren yang beliau kelola sering tidak beliau namai sebagai pesantren, namun beliau sebut sebagai mushalla atau langgar yang lebih menekankan untuk mendidik akhlakul karimah, sikap atau kepribadian seorang santri yang berkarakter, tidak mudah digoyang oleh budaya di tengah lingkungan masyarakat sendiri dan budaya di luar masyarakat sendiri.

Jadi, santri adalah seorang yang menuntut ilmu kemuliaan dan nilai-nilai keutamaan yang sudah diwariskan para Nabi, Wali dan Ahli Hikmah, sehingga akan sampai pada kebenaran itu sendiri. Modeling Mbah Syahid ini dapat dipahami dari perspektif Gus Dur, bahwa ikatan nilai antara tema pencarian kebenaran oleh kedua belah pihak, yaitu antara santri dan Kiai merupakan dua belah sisi yang bagaimanapun juga berwajah budaya. Corak analisis Gus Dur inilah yang telah disebut banyak peneliti dari kalangan antropolog dan sosiologi dengan istilah budaya santri. Istilah adanya budaya santripun sudah dapat dipahami di lingkungan masyarakat pesantren.

Khazanah Islam Nusantara

Kehadiran Mbah Syahid pada zamannya dan zaman para santri yang pernah dibimbing beliau merupakan khazanah Islam Nusantara. Mereka ini telah menandai keberlangsungan tradisi dan budaya santri di lingkungan masyarakat pesantren. Fungsi keberadaan Mbah KH. A. Syahid dan ajarannya, tidak menolak kebudayaan seperti sebuah bendungan yang tinggi, namun juga tidak menerima bendungan yang menjadi arus besar setiap kebudayaan masyarakat.

Sebagai arsitek atau model keberagamaan di tengah tradisi pesantren, Mbah KH. A. Syahid Kemadu memberikan sebuah penegasan, agar menjadi santri yang tidak berada pada kipasan teks kosong tanpa hakikat makna kewahyuan. Teks kewahyuan itu harus dipahami dari konteks penunjukan pada prinsip kebenaran dan nilai kearifan atau hikmah kehidupan.

Jika teks suci dibiarkan kosong tanpa relasi makna dengan yang telah ditunjuknya, maka teks suci itu hanya akan dijadikan pembenaran kehendak fasisme politik. Jika fungsi teks suci dibelokkan untuk pembenaran kehendak fasisme politik, maka teks suci ini justru akan menghijab antara relasi suci manusia dengan Allah, sesama manusia dan kesemestaan.

Ubaidillah Achmad
Ubaidillah Achmad
Mbah KH. A. Syahid Kemadu merupakan model atau percontohan untuk para santri di lingkungan pesantren, agar tidak menjadikan teks suci kosong dari relasi makna yang ditunjuk Allah. Sebagai sebuah percontohan keberagamaan, beliau tidak pernah membedakan antar para santri dan semua tamu dari kompleksitas masyarakat. Jika para tamu, adalah mereka yang memiliki berbagai macam corak budaya dan kepentingan, maka kesemua dari para tamu akan tetap melihat beliau sebagai model  atau panutan yang berwajah berseri penuh senyum yang terbaca selalu bersyukur kepada Allah: Alhamdlulillah.

Keberadaan Mbah KH. A. Syahid, telah membacakan teks dengan relevansi makna dan hikmah kehidupan yang ditunjuk teks kewahyuan. Mbah A. Syahid adalah pelaku yang membacakan teks suci zamannya dan zaman sesudah beliau wafat. Subhanallah, prinsip akhlakul karimah merupakan prinsip yang beliau pegang sebagai medium proses kerja kebudayaan para santri di tengah masyarakat. Mbah KH. A. Syahid, Sang Salik Yang Menjadi Khazanah Islam Nusantara.

Penulis, Khadim omah Kongkow Majlis As Syuffah Rembang, Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: KH. A. Syahid: Sang Arsitektur Budaya Islam Nusantara
KH. A. Syahid: Sang Arsitektur Budaya Islam Nusantara
Selain pesantren, Mbah KH. A. Syahid, telah meninggalkan banyak kenangan keilmuan dan perspektif kebudayaan santri yang orisinil dari khazanah tradisi pesantren Nahdlatul Ulama.
https://3.bp.blogspot.com/-bPtIgtCajBE/V-dVo0fcR5I/AAAAAAAAAzY/wFALmBuka2wv6wQMuKWrk9jial5xBajrwCLcB/s640/Ubaidillah%2BAchmad.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-bPtIgtCajBE/V-dVo0fcR5I/AAAAAAAAAzY/wFALmBuka2wv6wQMuKWrk9jial5xBajrwCLcB/s72-c/Ubaidillah%2BAchmad.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2016/09/kh-syahid-sang-arsitektur-budaya-islam-nusantara.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2016/09/kh-syahid-sang-arsitektur-budaya-islam-nusantara.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content