Relasi Kosmologi Kendeng
Dalam Kehendak 'Mimpi' Rini Soemarno dan Ganjar Pranowo

Relasi Kosmologi Kendeng Dalam Kehendak 'Mimpi' Rini Soemarno dan Ganjar Pranowo

Oleh: Ubaidillah Achmad

Dalam kurun waktu lima tehun terakhir ini, masyarakat petani ring pertama pegunungan kendeng, telah tercatat dalam sejarah kemanusiaan, yaitu sebuah keberanian mengeluarkan pandangan dan sikap berhadapan dengan para pemimpin dan pemodal yang memutuskan akan mendirikan pabrik semen di Tegaldowo Rembang. Para petani dan Ibu Ibu ring pertama ini dengan dalil menjaga lingkungan lestari juga berhadapan preman industri sebelum para industry beralih melakukan pendekatan dengan para Kiai Pesantren dan lembaga lembaga pendidikan di Rembang.

Dengan penuh kesabaran Ibu-ibu dan masyarakat di Pegunungan Kendeng terus mengingatkan kepada para pemimpin negeri ini untuk menyadari bahaya masa depan bagi kemanusiaan. Meskipun secara kuantitatif di lapangan berkurang, namun banyak masyarakat, baik di ring pertama dan di luar ring pertama terus bertambah. Dalam konteks kualitas gerakan, Ibu Ibu dan pegunungan kendeng ini justru semakin matang, baik dari sisi pengetahuan tentang ajaran kenabian tentang lingkungan lestari maupun dari segi jaringan lingkungan lestari yang berada di dalam negeri dan luar negeri.
Ibu-ibu dan masyarakat pegunungan kendeng tidak pernah membayangkan, bahwa model dan cara-cara pembelaan mereka terhadap lingkungan lestari berhasil atau gagal, namun yang tersimpan dibenak hati mereka ini, adalah melaksanakan sebuah darma dan menegakkan prinsip kebenaran menjaga kesemestaan. Dalam perspektif ajaran kearifan lokal, masyarakat pegunungan kendeng, unsur kesemestaan memiliki kesamaan hak penciptaan yang sama pentingnya dengan nyawa manusia.

Alasannya, hal yang akan terjadi pada kesemestaan dalam konteks lingkungan lestari ini sangat berpengaruh kepada keberadaan hidup manusia di dunia. Hal ini sangat dipahami oleh Bapak Ir. Joko Widodo (Presiden RI ke-7) dalam pertemuannya dengan Soeryo Adiwibowo, Teten Masduki, Johan Budi, dan perwakilan masyarakat ring pertama Pegunungan Kendeng. Dalam pertemuan ini Presiden menegaskan, bahwa KLHS 1 tahun semua izin diberhentikan dan menjamin terjadinya proses dialog yang sehat selama KLHS berlangsung.
Berbeda dengan semangat dan kearifan Bapak Presiden RI, justru saudari menteri BUMN, Rini Soemarno membuat gaduh masyarakat melalui nyanyiannya di beberapa media lokal dan nasional setelah berkunjung di Rembang yang didampingi oleh Bupati Abdul Hafidz, misalnya, seperti yang dikutip www.antaranews.com, pada tanggal 9 Agustus 2016, “kami prehatin terhadap laporan warga kepada Presiden RI selama ini.” Selama mendamping menteri BUMN ini, masih dalam kutipan www.antaranews.com, Abdul Hafidz dengan semangat adanya Pabrik semen ini, kurang membaca arti penting lingkungan lestari bagi masa depan kemanusiaan, sehingga ia menegaskan prosentasi kelompok kontra hanya 10 persen dan menargetkan dengan adanya semen, maka angka kemiskinan akan turun 11 persen dalam jangka waktu lima tahun ke depan.
Persoalannya, mengapa semen belum beroperasi sementara Bupati Rembang sudah berbicara pertumbuhan ekonomi yang akan bersimetris dengan pabrik semen. Selain itu, bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masa depan nilai kemanusiaan. Dari kunjungan Rini di rembang ini, ia bermimpi kondisi masyarakat Rembang yang tenang dan secara tersirat telah mendukung adanya pabrik semen tanpa memikirkan arahan dari Presiden RI.

Sementara itu, Ganjar Pranowo, telah memimpikan sebuah keputusan hukum dari pengadilan, sehingga ia menegaskan sebagaimana yang dikutip Suara Merdeka, 9 Agustus 2016, hanya ikut memantau dan tidak ikut campur dalam prosesnya. Selain itu, bagaimana tanggung jawab kepemimpinan Ganjar Pranowo ketika Pegunungan Kendeng terancam pertambangan? Benarkah cukup memimpikan masa depan masyarakat dengan membiarkan arahan dari yang Mulia Bapak Presiden RI. Haruskah karena sebuah kepentingan, lalu mengabaikan kearifan Bapak Presiden RI terhadap konflik ekologis di Rembang.

Jadi, keputusan Presiden RI, Bapak H. Joko Widodo perlu mendapatkan sambutan, sehingga tidak ada pejabat dan para pimpinan daerah berani menawarkan model penyelesaian sebelum melaksanakan arahan dari Bapak Presiden dengan model transaksional, yang secara spesifik dengan menawarkan model win win solution berikut ini (Tempo.com,10 Agustus 2016): kehidupan pabrik semen akan menyejahterakan masyarakat, berjanji akan mencari solusi jika memang kehadiran pabrik semen akan merusak lingkungan warga, apabila warga kekurangan air akan membuatkan sumur, apabila lahan warga terganggu akan dicarikan lahan. Pertanyaannya, mengapa harus win win solution sementara ada arahan Presiden RI yang belum selesai didialogkan secara akademik dan melalui riset kebijakan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Sehubungan dengan konflik ekologis di Rembang ini menunjukkan, bahwa strategi kebijakan pemimpin terkait dengan lingkungan lestari masih mengacu pada kepentingan kapital belum pada kepentingan kemanusiaan sebagaimana yang dijelaskan pada bab berikut. Kerangka dasar pemikiran pada sub bab berikut ini didasarkan pada simpulan sederhana, bahwa adanya relasi suci kosmologi yang menjadi khazanah lingkungan lestari merupakan kawasan penting yang tidak lagi memerlukan legitimasi model hitungan secara statistik dari para pendukung, namun yang lebih penting berupa sikap tanggung jawab terhadap unsur kesemestaan yang sudah menjadi amanah dan tanggung jawab setiap orang.

Konflik Ekologis dan Kebijakan Pemimpin

Sehubungan dengan pengalaman penulis selama menyaksikan gerakan Ibu-ibu ring pertama pegunungan kendeng di Tegaldowo Rembang dapat disimpulkan, bahwa konflik ekologis di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kebijakan para pemimpin. Model kebijakan pemimpin terhadap lingkungan lestari belum didasarkan pada prinsip menjaga relasi suci kosmologis. Model kebijakan ini hanya didasarkan pada kesepakatan pemimpin dengan para pemodal yang mengacu pada mekanisme pembuatan laporan adanya persetujuan masyarakat setempat. Proses permohonan persetujuan masyarakat ini juga masih banyak menyisakan persoalan dan masih memerlukan riset ulang. Indikasi model riset kebijakan yang tidak dilakukan dengan prinsip etika yang baik ini terlihat dari beberapa laporan yang tidak mencerminkan kondisi kawasan pegunungan kendeng.

Karenanya, tepat jika Presiden RI, Bapak Joko Widodo memerintahkan agar dilakukan riset lintas kementerian sebelum menyerahkan pada hukum. Ini artinya, sudah tidak waktunya lagi menemui masyarakat, karena suara masyarakat banyak yang mengembalikan pada keputusan pemerintah. Karena secara psikis, kebanyakan masyarakat tidak berani bersuara menolak dan banyak yang lebih disibukkan oleh pekerjaan masing-masing.

Fenomena  menarik yang luput dari pengamatan publik dan para pemegang kebijakan, adalah adanya gerakan masyarakat pecinta lingkungan lestari yang tanpa anggaran dari Industri, mereka ini berangkat dengan biaya sendiri. Sehubungan dengan fenomena ini, penulis pernah memaksa Ibu-ibu di rumah, sehingga tidak menghabiskan energi dan harta benda, namun mereka ini justru menolak ajakan penulis dan dengan gigih bertahan di tenda hingga sekarang.

Sementara itu, mereka yang mendukung industri, telah mendapatkan fasilitas lengkap. Misalnya, kebrangkatan ke PTUN Semarang. Pertanyaannya, mengapa mereka berangkat hanya pada saat ada biaya kelompok kepentingan? Sedangkan, masyarakat pecinta lingkungan lestari berangkat dengan melakukan biaya sendiri. Selain para pendukung industri mendapatkan anggaran dari pihak industri, mereka ini juga mendapatkan harapan akan berkesempatan untuk mendapatkan lapangan yang lebih layak. 

Beberapa pemberitaan di berbagai media nasional, telah banyak dibuktikan adanya model sosialisasi yang telah dilakukan dengan model premanisme. Hal ini bisa dibaca dari beberapa media dan catatan penulis yang sudah menjadi buku berjudul: Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologis dan Rekonsiliasi Akar Rumput. Misalnya, kondisi masyarakat Timbrangan dan Tegaldowo pada saat hendak mengundang penulis untuk memberika konseling agama dan budaya. Panitia pelaksana Mushalla bernama Kang Fathoni telah melaporkan kepada penulis tentang kejadian paska ditemui pemilik kafe.

Dalam laporan ini, Kang Fathoni telah di minta menghentikan acara istighasah dan pengajian lingkungan, karena bersamaan akan ada banyak pengunjung dari Jakarta. Setelah pencegahan ini berlangsung, Kang Fathoni menceritakan hal ini kepada penulis. Dalam peristiwa ini, penulis menguatkan kepada panitia, agar jangan membatalkan acara pengajian dan istighasah. Setelah malam hari acara Istighasah berlangsung, ternyata kafe yang berada di dekat lokasi pengajian tutup dan tidak mengganggu acara pengajian.   

Dalam analisis penulis terhadap beberapa laporan masyarakat ring pertama Tegaldowo ini dapat disimpulkan, bahwa pihak industri dan pemerintah daerah telah malakukan kesalahan dengan memberikan kebijakan tanpa membertimbangkan bahaya kerusakan lingkungan lestari. Pihak industri dan pemerintah menyampaikan tentang masa depan perkembangan perekonomian dan masa depan lapangan kerja bagi masyarakat ring pertama dan Rembang. Secara thelogis mereka ini telah merusak citra taqdir Allah tentang rizqi manusia berada di tangan Allah berubah menjadi rizqi manusia berada di tangan industri.

Sehubungan dengan fenomena konflik ekologis dan kebijakan pemimpin yang penulis alami sendiri, karena adanya kebijakan dan rencana kapitalisme global yang hanya didasarkan pada paradigma pembangunan yang menekankan pada pembangunan ekonomi jangka pendek, namun melupakan prinsip agama kenabian tentang arti penting masa depan kemanusiaan dan lingkungan lestari. Hal ini terbaca dari model sosialisasi kepada masyarakat atau pandangan para pemimpin dan pihak industri yang selalu mengunggulkan dan memastikan masa depan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi daerah. Mereka ini melupakan harga yang tidak akan pernah terhitung tentang masa depan kemanusiaan dan lingkungan lestari.

Fenomena konflik ekologis ini sebenarnya sudah dirasakan secara global oleh masyarakat dunia. Hal ini juga telah mendapatkan respon dari program 21 PBB mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Namun yang sangat disayangkan, program PBB ini tidak mendapatkan pengawalan dari PBB, sehingga kasus di Rembang kurang mendapatkan perhatian serius. Kasus di Rembang ini justru bersimetris dengan istilah yang disebut Baudrillard dengan istilah libidonomics.

Teks libidonomics inilah yang merugikan prinsip agama kenabian dan lingkungan lestari. Hal yang sangat ironis, kondisi libidonomics ini menjadi program unggulan pembangunan yang justru dalam jangka panjang akan mengancam masa depan kemanusiaan. Tentu saja, akan mendatangkan banyak devisa Negara, namun juga harus diingat oleh para pemimpin, bahwa program ini akan merusak lingkungan lestari dan pegunungan kendeng yang dalam tradisi masyarakat jawa disebut sebagai Ibu bumi.

Teks Libidonomics ini dapat dilihat dari fenomena menguatnya konsumerisme masyarakat desa dan kota. Dalam tradisi agama kenabian, fenomena konsumerisme ini merupakan pembiakan dari hawa nafsu fasisme politik dan kekerasan komunal yang dikendalikan oleh kapitalisme dunia. Dalam sejarah kenabian dan kewalian diajarkan, bahwa hawa nafsu memunculkan rupa yang mengerikan apabila sudah bersentuhan dengan angan angan kosong dan kebutuhan syahwat manusia.

Pada titik ini yang kemudian akan melahirkan keserakahan manusia yang akan menutup hati dan melupakan kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Wujud sempurna dari wajah Libidonomics yang sekarang ini telah kita baca dengan istilah kapitalisme kelas perguruan tinggi, yang disebut dengan istilah neoliberalisme. Gerakan neoliberalisme tersistem dengan penggunaan rasio instrumental Marcuse dan rasionalitas teknologis (Habermas). Misalnya, manipulasi AMDAL dengan konseptualisasi bagaimana masyarakat menerima kebijakan dan tidak melakukan pembelaan terhadap lingkungan lestari.

Dengan model ini para pemegang kebijakan memiliki alasan untuk mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan wajah Libidonomics di satu sisi, namun di sisi yang lain melupakan prinsip kebenaran dan kemanusiaan. Puncak nafsu Libidonomics inilah yang menjadi akar konflik ekologis di Rembang dan juga akan membuka peluang konflik di beberapa daerah lain di bumi pertiwi, Indonesia kita, yang kita cintai bersama dengan ideology pancasila dan UUD 45, namun apa daya dan kekuatan masyarakat setiap kali harus berhadapan dengan  Libidonomics. Rakyat dan masyarakat selalu menjadi korban pembangunan atau menjadi subjek vital yang disisihkan dari keseluruhan proses pembangunan.

Jadi, lingkungan lestari bukanlah kawasan tambal sulam untuk sekedar gali lobang dan tutup lobang. Lingkungan lestari merupakan kawasan vital yang harus mendapatkan perhatian bersama dan perlindungan dari para pemegang kebijakan. Prinsip agama kenabian ini sesuai dengan teks agama agama kenabian dan kearifan lokal yang masih sangat mudah untuk dibaca oleh masyarakat dan para pemegang kebijakan. Dalam tradisi Islam, telah dijelaskan dalam QS. Al-Qoshos: 77 dan bagi mereka yang menentangnya, maka disebut dengan Istilah kafir, dzalim dan fasik (QS. 15: 44,45, 47).  

Agama Kosmologi Kendeng:
Mengapa Berbeda Dengan Mimpi Rini dan Ganjar?

Karena agama kosmologi kendeng bukan ajaran dari hasil sebuah mimpi. Agama kosmologi kendeng merupakan prinsip yang menjadi ajaran kenabian. Prinsip ini mempertemukan kesatuan agama agama untuk turut hadir dalam kknteks mempertahankan relasi suci kosmologi. Prinsip ini, juga telah menjadi bentuk ajaran kearifan lokal masyarakat ring pertama peunungan kendeng di tegaldowo.

Oleh karena itu, menjaga pegunungan kendeng, sama artinya telah menjaga tradisi kenabian dan kearifan lokal. Pegunungan kendeng tidak boleh dilihat dari berapa jumlah para pendukung industri semen, namun harus dilihat dari arti penting keberadaannya sebagai sumber mata air masyarakat Rembang. Dengan demikian, pegunungan kendeng tidak boleh dipahami dari mimpi pemimpin, namun yang lebih beraati harus dipahami dari sistem pembangunan jangka panjang secara berkelanjutan bagi kemanusiaan dan peradaban. Kerangka filosofis arti teks pegunungan ini tidak bisa dipahami dari model mimpi win win solution Rini dan mimpi pembiaran Ganjar terhadap kegelisahan Ibu Bumi. 

Secara normatif, Allah menciptakan manusia memiliki dua peranan penting: pertama, sebagai subjek yang bertanggung jawab untuk dapat mengatur keberadaan dirinya yang terdiri dari unsur ilahiyah, insaniyah, dan kealaman. Ketiga unsur ini melekat dalam kehidupan setiap manusia. Peran pertama ini yang sering disebut dengan istilah khalifah. Karena kealaman bagian dari unsur kekhalifahan, maka manusia tidak boleh mengeksploitasi sumber daya alam. Sikap eksploitatif manusia terhadap alam ini, juga akan berbalik pada kondisi terpuruk manusia, karena alam juga menjadi subjek yang bergerak mengikuti perintah Allah yang menyimpan unsur ilahiyah. Dalam kesamaan peran sebagai subjek, meskipun manusia memiliki unsur kealaman, namun alam tidak memiliki unsur kemanusiaan.

Karenanya, kealaman tidak bertanggung jawab terhadap kondisi kerusakan manusia, namun manusia bertanggung jawab terhadap kerusakan unsur kealaman atau kesemestaan. Meskipun demikian, antara manusia dan alam sama sama berperan sebagai subjek yang berjalan sesuai dengan mekanisme masing-masing yang sesuai dengan keputusan mekanik dari Allah.

Sehubungan dengan kognisi relasi suci antara Allah, Manusia dan Kesemestaan ini, maka peran kekhalifahan pada tulisan ini berbeda dengan kebanyakan perspektif yang mengartikan khalifah sebagai sosok atau pribadi yang mampu mewakili peran Allah di muka bumi dengan tanpa ada kesalahan dalam memanfaatkan unsur kesemestaan.

Selama ini, masih banyak yang mengalami gagal paham terhadap makna teks kekhalifahan. Misalnya, kondisi keberadaan manusia yang dipahami sebagai wakil Allah (khalifah Allah) yang telah mendapatkan hak penuh (veto) terhadap pemanfaatan sumber daya alam. Kerangka berfikir ini didasarkan pada simpulan, manusia dengan teks rasionya dapat mengoperasionalkan sumber daya alam. Dengan teks rasio ini yang terjadi justru, adanya kelahiran manusia yang mengabaikan masa depan kemanusiaannya sendiri dan masa depan “anak cucu”.

Kedua, manusia berperan sebagai hamba yang merdeka di antara sesamanya. Dalam konteks peran ini, pada diri setiap manusia akan bertanggung jawab terhadap peran kekhalifahannya: bagaimana manusia bertanggung jawab mengawal potensi unsur insaniyah dan kesemestaan serta mempertanggungjawabkan amanah kekhalifahan kepada Allah?

Sehubungan dengan pertanyaan ini, telah memunculkan dua tipologi manusia: pertama, ada sosok manusia yang berkomitmen melaksanaan fungsi kehambaannya dengan menjaga relasi suci kosmologi. Kedua, ada sosok manusia yang telah mengabaikan relasi suci kosmologi. Tipe yang pertama, mereka yang berpegang pada prinsip kebenaran dan agama kenabian serta kearifan lokal. Tipologi yang pertama ini, telah mengacu pada etika universal.

Sedangkan, tipologi kedua, karena beranggapan manusia memiliki hak veto memanfaatkan sumber daya alam, maka berperan sebagai khalifah atau wakil Allah yang bebas berkehendak sesuai dengan rasionya. Sehubungan dengan tipologi kedua ini, telah dimafaatkan oleh para penguasa dan oleh para pemodal menjalankan kekhalifahan secara destruktif, sehingga tidak memperhatikan relasi suci kosmologis. Relasi suci kosmologi bagi tipologi yang kedua ini, telah diganti dengan deklarasi arti pentingnya rasio dalam “renaissance” Descartes. Artinya, apa pun yang telah diputuskan secara rasional, maka tidak perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan yang sudah tertata dan terbungkus dengan rapi dalam lembaran sajak dan cerita fiksi.

Istilah yang paling fundamental dari Descart, adalah cogito ergo sum (XVI). Dalam deklarasi ini, tidak hanya berimplikasi negatif pada unsur kesemestaan, namun relasi manusia dengan Allah pun menjadi pudar dan rusak. Semua pandangan dan sikap manusia hanya diukur dari perspektif rasionalitas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika sistem kekuasaan pemimpin pun harus mengikuti kehendak kapitalisme global, maka kerusakan ala mini tidak lama lagi akan segera dirasakan oleh seluruh umat manusia!Maha Suci Allah pada kawasan kosmologis yang telah tercatat dalam teks kewahyuan.

Penulis, Dosen Islam dan Budaya Jawa UIN Walisongo Semarang, Penulis Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: