MAKNA SATU ABAD QUDSIYYAH UNTUK BANGSA INDONESIA

MAKNA SATU ABAD QUDSIYYAH UNTUK BANGSA INDONESIA

M. Rikza Chamamim
Alumni MA Qudsiyyah Tahun 2000 & Dosen UIN Walisongo Semarang

Grand event perayaan Satu Abad Qudsiyyah akan mulai digelar hari ini, Senin Pon (1 Agustus 2016/27 Syawwal 1437). Itulah puncak dari ratusan kegiatan yang sudah pernah digelar diberbagai titik dari Kudus, Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta hingga Jakarta.

Ada banyak keanehan dan keajaiban yang selalu terjadi dalam setiap event kegiatan Satu Abad Qudsiyyah. Aneh karena kegiatan itu tidak pernah putus. Dan ajaib karena setiap kegiatan selalu bermodal do'a dan jejaring alumni.

Kalau ditanya berapa biaya yang dikeluarkan dalam event Satu Abad Qudsiyyah. Jawabnya adalah hanya Allah yang tahu dan hanya para Waliyullah yang menuntun ini semua. Itulah santri yang bergiat hanya dengan mengikuti dawuh para masyayikh dan guru.

Penulis sendiri selalu aktif berkomunikasi dengan panitia dan kebetulan ada tugas yang harus kami emban. Selalu yang muncul dalam benak saya adalah dawuh dari Kyai Noor Halim Ma'ruf dan Prof Abdurrahman Mas'ud. Dua figur ini mempunyai pesan yang sama: "Berkhidmahlah dengan kemampuanmu untuk mengingat almamatermu dan jangan lupakan madrasah serta gurumu Qudsiyyah".

Kira-kira jika dipecah menjadi bagian-bagian khusus, arti dari pesan itu empat hal pokok yang harus dimiliki.

Pertama, daya kekuatan kita jangan pernah rapuh kalau dibutuhkan almamater. Ini menunjukkan bahwa dalam diri kita sebagai santri walau sudah sukses dan jauh dari Kota Kudus tetap harus siap hadir dan berpartisipasi di hadapan guru.

Kedua, selalu mengingat almamater. Tentu banyak kenangan dalam masa sekolah, apalagi saat itu masih undul-undul (kecil dan belum banyak ilmu). Dan kenangan indah harus selalu dimaknai dengan segenap pikiran positif. Semua kenangan itu pasti indah dari mulai menghafal Alfiyyah, mutholaah kitab, pramuka hingga ditakzir.

Ketiga, tidak lupa almamater. Kyai Nadjib Hassan selalu pesan: "Ojo lali weton". Kalimat itu sama sekali bermakna bagi para alumni tidak boleh melupakan apapun dari Qudsiyyah.

Dan keempat, jangan lupa kepada guru. Banyak sekali curahan ilmu yang ditebarkan kepada para santri. Banyak petuah yang telah ditanamkan. Namun kadang kita lupa bahwa itu semua adalah dari guru-guru kita.

Satu Abad usia yang dimiliki Qudsiyyah kali ini memang perlu dimaknai bersama. Seratus tahun bukanlah usia yang pendek. Angka seratus juga merubah urutan yang semula hanya dua digit, mulai berganti menjadi tiga digit.

Seratus juga menjadi bilangan genap yang pertama dengan tiga angka. Artinya bahwa genaplah usia Qudsiyyah menuju titik kejayaan dan makin panjang jalan yang harus dilalui.

Tulisan ini sengaja dihadirkan tepat tengah malam di hari pertama Grand Event dilaksanakan. Harapannya, ini menjadi awal pemantik diskusi bagi semua keluarga besar Qudsiyyah dan seluruh masyarakat.

Qudsiyyah di usia seratus tahun sudah tidak lagi hanya milik pengurus dan alumni. Qudsiyyah sudah menjadi milik bangsa Indonesia. Dan itulah doa yang selalu dipanjatkan pendirinya KHR Asnawi. Doa untuk bangsa Indonesia, maka sudah waktunya seratus tahun usia ini menjadi pijakan untuk penyadaran Qudsiyyah milik bangsa Indonesia.

Tak ada yang sulit dalam hidup kalau semua berjalan bersama dengan penuh kebersamaan. Dan itu sudah terbukti, rangkaian Satu Abad Qudsiyyah mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa.

Penulis selalu meneteskan air mata saat lantunan Shalawat Asnawiyyah. Dimana bayangan sosok KHR Asnawi yang selalu hadir di bagdrop itu seakan hidup dan beliau berdiri bersama para masyarakat.

Mbah Asnawi juga bukan hanya milik Qudsiyyah. Beliau sosok yang telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Dan para santri Qudsiyyah ingin berkhidmah pada KHR Asnawi untuk menghidupkan kembali semangat mendirikan Qudsiyyah.

Satu Abad penuh tekat bulat. Seratus menjadi pencetus. Qudsiyyah selalu berbenah menuju madrasah penuh berkah. Ridla wali, ulama, masyayikh, guru, santri dan semua masyarakat selalu dinanti.

Selamat mencari berkah Satu Abad Qudsiyyah. KHR Asnawi selalu bersama kita semua.*)

Semarang, 1 Agustus 2016
Pukul 00.18

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: