Bedah Buku: Kebangkitan Santri Cendekia, Kebangkita Kelas Menengah Santri

Bedah Buku: Kebangkitan Santri Cendekia, Kebangkita Kelas Menengah Santri

News, Arrahmah.co.id - Di tengah perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, seorang santri tidak hanya dituntut menjadi seorang yang hanya ibadahnya khusyu dan menguasai kitab-kitab klasik, namun juga harus menjadi intelektual yang alim dan dapat memberi solusi bagi masalah-masalah terkini. Tentu pendidikan tinggi menjadi jembatan yang sangat penting.

Tentang peran pendidikan terhadap mobilitas sosial kaum santri yang ditandai dengan kebangkitan santri cendekia sebagai kelas menengah santri dalam publik Indonesia antara kurun 1970-an hingga 1990-an akhir. Hal ini secara khusus diteliti oleh Dr Mastuki HS dan melahirkan sebuah karya yang akhirnya diterbitkan oleh Pustaka Compass menjadi buku berjudul “Kebangkitan Santri Cendekia : Jejak Historis, Basis Sosial dan Persebarannya”.

Buku yang semula Desertasi yang dipertahankan pada ujian promosi doktor di UIN Syarif Hidayatullah ini, dilaunching pada hari Sabtu, 6 Agustus 2016 di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta Pusat. Mengundang berbagai tokoh dan penulis antara lain Prof. Dr. Dede Rosyada MA, Prof. Dr. Masykuri Abdillah MA, Prof Dr. Amsal Bahtiar, KH. Abdul Mun’in Dz, James Hoersterey, Dr. Rumadi Ahmad, Dr. Zastro al-Ngatawi , Anshorun Niam Saleh, Ahmad Syahid, A. Ginanjar Sya’ban,  Dr Zainul Milal Bezawie. Dan para peserta undangan yang memenuhi ruangan berjumlah sekitar 200 orang.

Dalam sambutannya Dr Mastuki mengatakan “saya berpendapat, pada saat buku sudah diterbitkan, maka buku ini adalah milik publik. Bukan miik penulis lagi. Karena publik, siapapun itu berhak untuk memberikan catatan, memberikan kritik, memberikan masukan-masukan dengan perspektif yang memperluas”

Buku Kebangkitan Santri Cendekia ini berisi kajian teoritis dan empiris tentang konsep ”kelas” dan ”kelas menengah”, problem konseptual seputar penggunaan kelas menengah dalam konteks masyarakat Indonesia, teori mobilitas sosial dan mobilitas sosial kaum santri, peran pendidikan terhadap mobilitas sosial dan perkembangan kelas menengah santri –yang menjadi tema penelitian.

“Saya studi selama 10 tahun, sejak 1997 sampai 2007. Seberapa kuat peran pendidikan Islam, berbicara mobilitas santri saya membaca banyak buku tentang konsep-konsep kaum menengah. Setelah pengkajian itu, saya melihat ada banyak varian-varian santri” jelas orang yang dipercaya sebagai Kepala Subdit Kelembagaan, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam  Kementerian Agama RI ini.

Selanjutnya ia menjelaskan lebih bagaimana ia memilih diksi “kelas menengah santri” dengan mengatakan “saya mengategorikan santri sebagai santri pesantren dan Santri modernis yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi ini. Meskipun lagi-lagi pada tahun 80-an terjadi konfergensi atau peleburan antara varian-varian santri. Mobilitas santri atau kebangkitan santri cendekia, itu saya identifikasi karena salah satunya adalah pilihan pendidikan dan faktor pendidikan islam yang kemudia santri itu disebut sebagai santri cendekia. Karena dengan pilihan dan studi yang dilakukan, yang dialami para santri di perguruan tinggi membedakan kategori kelas menengah yang awalnya sangat berdimensi ekonomi.”

Dalam penelitian tersebut, Mastuki juga sengaja memilih istilah santri dengan makna tersendiri. “Istilah santri bagi saya bukanlah nomenklatur istilah monolitik, tetapi istilah santri itu jamak sekaligus majemuk. Itu yang menyebabkan ada varian-varian santri yang saya lihat dalam peta perkembangan Islam di Indonesia. Dengan begitu, saya tidak mengambil santri yang spesifik dari pesantren. Karena latar belakang yang sosial yang ada pada kalangan santri itu majemuk. Mereka mengalami tantangan yang berbeda-beda dalam komunitas sosial masing-masing”, paparnya.

Dr. Rumadi Ahmad (Ketua Lakpesdam NU), salah satu pemberi sambutan testimoni tentang buku ini memberikan komentar dan dukungan kepada Dr. Mastuki HS. “Karya yang ditulis pak Mastuki ini merupakan karya dokumentasi, meskipun istilah kelas menengah santri ini selalu perkembang. Harapan saya terhadap buku ini menjadi salah satu optik atau kacamata yang bisa gunakan untuk melihat berkembangnya santri di Indonesia, apapun definisinya. Sekali lagi saya mengucapkan selamat”. (Ridho/Damar/Taufik)

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: