Lebaran, Ketupat, Sungkem, dan Halal Bihalal

Lebaran, Ketupat, Sungkem, dan Halal Bihalal

Oleh: Prof.Sumanto Al Qurtubi, P.hd

Jama'ah Facebook yang budiman. Dimanapun Anda berada, apapun agama Anda, apapun mazhab Anda, apapun bahasa daerah Anda, apapun etnis dan suku-bangsa Anda, dari lubuk hati yang paling dalam, saya dan keluarga mengucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir-batin jika ada postingan-postingan Facebookku selama ini yang bikin emosi, marah, dongkol dan saudara-saudaranya.

Semua postinganku sebetulnya bertujuan untuk mendidik publik masyarakat agar bersikap cerdas dan dewasa dalam menyikapi isu-isu sosial-kemanusiaan-keagamaan. Menggugah masyarakat akan pentingnya makna toleransi dan pluralisme dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara. Menyadarkan akan bahaya "etnosentrisme" dan pentingnya "relativisme budaya" dalam menyikapi kemajemukan umat manusia. Menghargai tradisi sendiri, budaya sendiri, bahasa sendiri, bangsa sendiri, dan negara sendiri diatas tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain tanpa harus merendahkan tradisi, budaya, bahasa, bangsa, dan negara lain itu.

Lebaran berarti "lebar" atau "selesai". Bisa juga berarti "lebur" yang berarti "hangus" atau "lenyap". Tentu saja lenyap segala kesalahan dengan jalan saling memaafkan satu sama lain. Konon tradisi ini pertama kali digagas oleh Sunan Bonang yang bertujuan untuk "menyempurnakan" bulan suci Ramadan. Jika dengan puasa, Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dengan-Nya, maka dengan saling meminta maaf kepada sesama, lenyaplah dosa-dosa dan kesalahan kita dengan sesama umat manusia. Denagn demikian, dosa dengan Tuhan lebur, dosa dengan sesama manusia juga lebur.

Lambang dari pengampunan kesalahan dan permintaan maaf itu disimbolkan dengan ketupat atau kupat dalam Bahasa Jawa yang berarti "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan atau kekhilafan. Tradisi makan kupat ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijogo, satu-satunya anggota Walisongo yang "njawani" dan gemar nguri-uri atau merawat tradisi dan kebudayaan lokal.

Selain makan ketupat, Lebaran juga diiringi dengan tradisi "sungkeman", sebuah tradisi Jawa yang konon dimulai dari Pangeran Samber Nyowo atau KGPA Arya Mangkunegara I dari Keraton Kartasura. Sungkem adalah sebuah tradisi permintaan maaf dan sekaligus permintaan berkah dari orang tua atau orang yang dituakan.   

Terakhir adalah halal bihalal. Nah ini sejarahnya agak rumit dan banyak versi. Tetapi diantara sekian versi, saya menganut versi yang mengatakan bahwa nama "halal bihalal" itu diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), salah satu pendiri NU. Konon dulu, Presiden Sukarno minta nasehat Mbah Wahab untuk mengatasi perselisihan, ketegangan, dan konflik para elit poltik di awal-awal kemerdekaan RI. Mbah Wahab kemudian mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengundang semua elit politik dari berbagai etnis dan agama dalam sebuah acara silaturahmi akbar di "istana" yang dinamakan "Halal Bihalal" tujuannya supaya saling "menghalalkan" dan "memaafkan" kesalahan, tidak ribut melulu dan saling "mengharamkan" dan "menyalahkan".

Demikian sekilas "santapan rohani" dari Negeri Singa. Insya Allah, besuk mudik kampung untuk ikut merayakan Lebaran, makan kupat, sungkeman, dan halal bihalal.

Prof.Sumanto Al Qurtubi, P.hd Alumni UIN Walisongo & Guru Besar di Bahrain, Arab saudi

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: