Ketupat dan Lepet Kearifan Lokal Muslim Indonesia

Ketupat dan Lepet Kearifan Lokal Muslim Indonesia

Kupat dan Lepet

Oleh M Rikza Chamami

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi al-Hamd.

GEMA takbir itu tak henti dikumandangkan dari masjid ke masjid. Lantunan kalimah takbir menjadi pertanda Ramadan telah usai. Dan, tibalah saat bahagia, Idul Fitri ada di depan mata.

Baju, celana, dan pakaian semua baru. Beberapa anak kecil berlari-lari dengan sorak gembira menyambut Lebaran. Satu sama lain berbagi suka cita dengan sinar kembang api.

Ibunda tercinta yang turut mendampingi kegembiraan sang buah hati juga turut meluapkan bahagia. Sambil mengunyah kurma mereka bercerita seputar rencana Lebaran.

Di tengah gemuruh beduk dan lantunan takbir, Mbah Marni masih sibuk di dapur. Dia mengangkat satu demi satu kukusanmakanan khas Lebaran yang dibungkus dengan janur (daun kelapa muda ). "Napa niku Mbah?," tanya cucunya yang masih lucu. "Niki asmane kupat (Indonesia: ketupat) lan lepet," jawabnya cepat.

Anak itu tak mau jauh dari neneknya. Maklum, dia datang jauh-jauh dari ujung timur Jawa, ikut mudik orang tuanya ke Kudus. Satu kata yang dimintanya, dia ingin merasakan masakan yang dianggapnya aneh dan tak pernah ditemuinya.

Sebenarnya, berbeda di wilayah Betawi misalnya, tradisi menyajikan ketupat di Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan sekitarnya dilakukan sepekan setelah hari pertama Idul Fitri atau lebih dikenal sebagai Bada Kupat atau Kupatan.

Namun, karena Mbah Marni ingin membuat senang cucunya yang mesti balik pada hari ketiga Lebaran itu, dia pun memasak ketupat pada malam menjelang Lebaran.

Malam itu tampak ramai. Masjid yang sejak sore sudah memulai penerimaan zakat fitrah berjubel orang berpeci dan sarung.

Malam itu pula zakat yang telah terkumpul dibagikan pada mustahiknya.

Semua keluarga berkumpul bersatu dan saling bercerita seputar puasa dan Lebaran. Rasa sedih, gelisah, gundah terkubur oleh nuansa Lebaran yang kian elok.

Kemeriahan Idul Fitri bukanlah hal tabu. Persiapan untuk menyambut kehadirannya sudah dengan matang direncanakan. Mulai menyembelih ayam, mengecat rumah, membeli pakaian hingga mempersiapkan penganan.

Tak lupa pula menghidangkan makanan khas bernama kupat dan lepet. Walau nama itu merupakan dua makanan yang beda, orang sering menyebutnya bersamaan.

Pembuatan kupat-lepet ini memakan waktu lama. Mulai dari menganyam janur untuk kupat, mengisi beras dan memasaknya kira-kira enam jam. Bahan mentah yang digunakan juga beda, kupat terbuat dari beras dan lepet dari ketan.

Ternyata di balik nama kupat-lepet mengandung makna filosofis. Keduanya merupakan makanan yang mempunyai makna tawadu (rendah diri). Kupat berarti aku lepat(salah) dan lepet bermakna luput (salah). Jadi, kupat-lepet adalah simbol pengakuan dosa yang dimiliki oleh manusia. Ini sama halnya dengan kata "kudus" yang berarti "aku dosa". Tepat kiranya orang Kudus kalau Lebaran hari ketujuh menamakan Kupatan, pertanda hari istimewa Idul Fitri akan berakhir.

Karena menjadi hamba Allah yang bergelimang dosa, mereka menebusnya dengan bermaaf-maafan (mushafahah). Mungkin "orang kuno" dahulu merasa kurang cukup jika penebusan dosa hanya dengan bersalaman. Lalu dibuatlah simbol makanan kupat-lepet agar mereka tidak lupa dengan kesucian makna Idul Fitri.

Dalam membentuk model kupat juga beraneka ragam. Ada kupat masjid, rumah, ayam jago, persegi panjang, dan lain sebagainya. Ini pertanda, penebusan dosa bisa dilakukan di mana pun dan dengan siapa pun. Sebab, perintah untuk mengakui dosa tercantum dalam Alquran: Wasari'u ila maghfiratin min rabbikum wa jannah. (Wahai para manusia, bergegaslah engkau meminta maaf dari Tuhanmu dan kelak menuju surga.)

Ini bukti pengakuan khilaf seorang hamba pada hari Lebaran. Maka ketika unjung (putar-putar menyambangi tetangga) dia menyampaikan kalimat: Sugeng Riyadi, ngaturaken lepat kula, nyuwun pangapunten. Selamat Idul Fitri, mohon maaf atas semua kekhilafan yang kami miliki.

Dimuat Suara Merdeka 8 November 2005

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: