Headlines
Loading...

M. Rikza Chamami
Dosen UIN Walisongo Semarang & Mantan Pjs Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU

"Berkat shalawat maksiyat minggat" itulah judul salah satu tembang shalawat Habib Syekh yang sering dilantunkan dan sangat masyhur. Memang benar bahwa shalawat itu sangat indah. Sebab inti dari shalawat adalah berdo'a dan memuji.

Dengan sering berdo'a pada  Allah dan memuji Nabi Muhammad, maka ragam kemaksiyatan mudah hilang. Jiwa dan raga juga mudah menyatu dengan substansi agama yang intinya adalah ridla Allah.

Lantunan shalawat menjadi dzikir yang selalu diindahkan oleh pengikut ahlussunnah wal jama'ah. Hidup tanpa shalawat terasa hambar. Sebab shalawat turut serta dalam membangun jiwa yang terbebas dari angkara murka dan maksiyat.

Bershalawat selalu dijalankan bukan meninggalkan inti dari perintah Al Qur'an. Sebab Allah dan malaikat sendiri mendendangkan shalawat untuk para Nabi. Jadi shalawat adalah sebuah rutinitas yang menjadi ibadah uluhiyyah dan malakiyyah. Manusia sebagai hamba Allah tentunya tinggal mengikuti apa kata Tuhannya.

Memuji Nabi dengan bershalawat (orang Jawa menyebut shalawatan) pada hakikatnya adalah mengenang jasa utusan Allah dan sekaligus berharap bisa meniru keteladanannya. Maka sangat tidak elok jika dalam rangka memuji Nabi, namun kita membenci umat Nabi.

Nabi dan umatnya tidak bisa dipisahkan. Nabi kita bacakan shalawat, secara otomatis kita memintakan berkah shalawat itu untuk pengikut Nabi. Dalam istilah pecinta Nabi (muhibbin) orang menyebut dengan jama'ah pecinta dzurriyah.

Bagi pengikut Nahdlatul Ulama, shalawat adalah menu spesial yang selalu dijalani. Selain shalawat ada manaqib (sejarah para waliyullah) dan dzikir-dzikir yang dibaca secara berjama'ah. Disinilah shalawat itu secara bersama disenandungkan menjadi indah dengan penuh khidmat.

Shalawatan kemudian menjadi tradisi Islam Nusantara yang selalu dijalani setiap waktu. Bahkan secara rutin dilaksanakan di Masjid, Musholla dan majelis ta'lim baik secara harian, mingguan, selapanan atau tahunan. Shalawat sangat fleksibel dijalankan dimanapun tempatnya. Dengan shalawat, para pecinta Rasul akan mudah mendapatkan kemajuan. Tentunya kemajuan dalam hal spiritual: meningkatkan iman dan taqwa pada Allah, termasuk meningkatkan cinta pada Rasulullah.

Menjadi umat Islam yang berkemajuan memang sangat indah sekali. Maju dalam berdzikir, maju dalam berfikir dan maju dalam beramal shaleh. Dan tentu tujuan utama dalam berislam adalah belajar, berjuang dan bertaqwa.

Dengan bershalawat yang memajukan jiwa ini, maka segala kemaksiyatan di bumi Nusantara akan hilang. Yang paling inti bahwa shalawat akan memudahkan bangsa Indonesia semakin kokoh dan shalawat akan menjadikan NKRI kuat. Satukan jiwa untuk bershalawat pada Nabi. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad.*)

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia