Billboard Ads

 Cerdas Beragama di Tengah Masyarakat
Muslim Indonesia. Photo ctvnews
KHAZANAH ISLAM, ARRAHMAH.CO.ID - Masalah khilafiyyah mu'tabaroh dihasilkan dari istinbath hukum dari Al-Qur'an dan hadits, jadi mana yang diyakini, silahkan diambil. Namun, bila yang diyakini tidak sesuai madzab masyarakat setempat, cukup diamalkan untuk diri sendiri dan jangan difatwakan kepada umat karena akan menimbulkan fitnah dan perpecahan umat.

Di antara yg terjadi sekarang adalah demikian; orang membawa madzab baru dari luar negeri, berfatwa kepada umat yang berbeda dengan bawaannya dari luar negeri, menyoroti dan berusaha mensortir amaliah masyarakat setempat sehingga merusak ukhuwwah umat

Bagaimana Ulama Melihat Masalah Khilafiyyah Furui'iyyah?


قال سفيان الثوري إِذَا رحمه الله :  إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ الَّذِي قَدِ اخْتُلِفَ فِيهِ وَأَنْتَ تَرَى غَيْرَهُ فَلَا تَنْهَهُ
Sufyan al-Tsauri berkata: “jika kamu melihat orang lain mengamalkan sesuatu yang masih diperselisihkan hukumnya dan kamu berpendapat berbeda dengannya, maka jangan larang dia”. (al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Faqih wa al-Mutafaqqih 2/136).


وَقَدْ قَالَ أَحْمَدُ فِي رِوَايَةِ الْمَرُّوذِيِّ : لَا يَنْبَغِي لِلْفَقِيهِ أَنْ يَحْمِلَ النَّاسَ عَلَى مَذْهَبِهِ. وَلَا يُشَدِّد
Imam Ahmad, dlm riwayat al-Marudzi berkata: “seorang ahli fiqih tidak pantas memaksa orang untuk mengikuti madzhabnya dan bersikap keras (bagi yang menyelisih)”. (Ibn al-Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah 1/166)


قال النووي رحمه الله: لَيْسَ لِلْمُفْتِي وَلَا لِلْقَاضِي أَنْ يَعْتَرِضَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُ إِذَا لَمْ يُخَالِفْ نَصًّا أَوْ اجماعا أوقياسا جَلِيًّا وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Seorang mufti tidak pantas berseteru dengan orang yang menyelisih fatwanya, selama ia (yang berbeda) tidak menyelisih nash, atau ijma’ atau qiyas jaliy”. (Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 2/24)


قال الشاطبي رحمه الله: وَلَيْسَ مِنْ شَأْنِ الْعُلَمَاءِ إِطْلَاقُ لَفْظِ الْبِدْعَةِ عَلَى الْفُرُوعِ الْمُسْتَنْبَطَةِ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِيمَا سَلَفَ
“bukan pekerjaan ulama kalau memutlakkan lafadz bid’ah pada masalah-masalah furu’ (cabang) yang diinstinbathkan (dari dalil-dalil) walaupun salaf tidak mefatwakan itu.” (Imam al-Syatibiy dalam al-I’tisham 1/266)

Beragama Sesuai Madzab Masyarakat

Dikisahkan ada seorang Ulama besar bermadzab Hanbaly, beliau adalah Imam Abu Ya'la al-Hanbaly. Beliau pernah didatangi seseorang untuk belajar fiqih. Lalu beliau bertanya kpd yg hendak belajar tentang asalnya. Orang tersebut lalu bercerita tentang tempat tinggalnya. Lantas Sang Imam berkata, "Masyarakatmu umumnya bermazhab Syafii, maka tidak pantas bagimu untuk belajar mazhab lain, sebab hal itu dapat menyulitkanmu dan menimbulkan fitnah di antara masyarakat."

Oleh sebab itu, Sang Imam menyarankannya untuk belajar Mazhab Syafii kepada Imam Abu Ishaq asy-Syirazy, pengarang kitab at-Tanbih dan al-muhazzab dlm Mazhab Syafii. 
Cerita ini disebutkan oleh Syaikh Bakar Abu Zaid dlm al-Madkhal al-Mufasshal.


Kesimpulan 

Sikap yg bijak adalah mengamalkan fiqih yg berlaku di mana kita berada. Bila kita mengambil pendapat suatu masalah karena sisi pendalilannya lbh kuat daripada amalan yg dijalankan oleh masyarakat, maka sikap yg bijak adalah mngamalkan untuk diri sendri, bukan untuk difatwakan kpd umat karena akan meresahkan dan memecah belah mereka.  Dengan catatan kedua masalah tersebut dlm lingkup mslh furu'iyyah khilafiyyah, bukan masalah ushuliyyah yg bersifat antara haq dan batil. Ingat, masalah ijtihadiyah furu'iyyah itu produk hasil ijtihad yg bersifat dhonn yahtamilus showab wal wayahtamilul khotho' atau antara rojih dan marjuh. Lebih jelasnya kedua masalah ijtihadiyah tersebut dihasilkan dr dalil dalil al Qur'an dan Hadits. Jadi tidak sepatutnya melabeli bid'ah, atau sesat dlm mslh ijtihadiyah furu'iyyah ketika berfatwa di tengah tengah umat.

Jika memang mengikuti manhaj salaf, lihatlah bagaimana para salaf dlm beragama ketika di tengah tengah umat yg berbeda. Di antaranya hadits diriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ صَلَّى عُثْمَانُ بِمِنًى أَرْبَعًا فَقَالَ عَبْدُ اللهِ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا. قَالَ الأَعْمَشُ فَحَدَّثَنِى مُعَاوِيَةُ بْنُ قُرَّةَ عَنْ أَشْيَاخِهِ أَنَّ عَبْدَ اللهِ صَلَّى أَرْبَعًا قَالَ فَقِيلَ لَهُ عِبْتَ عَلَى عُثْمَانَ ثُمَّ صَلَّيْتَ أَرْبَعًا قَالَ الْخِلاَفُ شَرٌّ. رواه أبو داود والبيهقي

Dari Abdurrahman bin Yazid, berkata: “Utsman menunaikan shalat di Mina empat raka’at.” Lalu Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dua raka’at. Bersama Abu Bakar dua raka’at. Bersama Umar dua raka’at. Bersama Utsman pada awal pemerintahannya dua raka’at. Kemudian Utsman menyempurnakannya (empat raka’at). Ternyata kemudian Abdullah bin Mas’ud shalat empat raka’at. Lalu beliau ditanya: “Anda dulu mencela Utsman karena shalat empat raka’at, sekarang Anda justru shalat empat raka’at juga.” Ia menjawab: “Berselisih dengan jama’ah itu tidak baik.” (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Perhatikan dalam riwayat di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhuma menunaikan shalat di Mina (ketika menunaikan ibadah haji, dengan di-qashar) dua raka’at. Kemudian Khalifah Utsman tidak melakukan qashar. Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mencela Khalifah Utsman karena tidak melakukaan qashar shalat sebagaimana dilakukan oleh pemimpin sebelumnya. Meski begitu, karena Khalifah Utsman dan umat Islam pada saat itu tidak melakukaan qashar, Ibnu Mas’ud juga tidak melakukan qashar, demi menjaga kebersamaan dengan jama’ah, karena berbeda dengan jama’ah suatu keburukan. 
والله أعلم بالصواب وما توفيقي إلا بالله

(KBAswaja)

By