Billboard Ads

Masjid Omawi, di Kota Tua Damaskus, pernah menjadi sasaran mortir di tengah konflik Suriah.
INTERNASIONAL, ARRAHMAH.CO.ID - Maret 2011 mengawali perang Suriah. Ketika itu para demonstran di kota Deraa menuntut reformasi dan Presiden Bashar al-Assad turun tahkta.

Demonstrasi ini direspons keras oleh Assad dan berujung pada kematian beberapa pengunjuk rasa.

"Awalnya ada anak-anak di Deraa, Suriah selatan, menempel poster penggantian pimpinan, lalu diberangus, ini versi oposisi. Versi pemerintah lain lagi," ujar Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Harjanto akhir April lalu di Damaskus.

Dalam versi Assad, pemerintah mengaku menindak beberapa penyusup yang dituduh melakukan provokasi dengan aksi kekerasan yang berujung kekacauan.

Kini, lebih dari lima tahun kemudian, perang masih berkecamuk di negara berpopulasi 22,8 juta jiwa itu.

__________________________________________________

#KonflikSuriah

Baca: 
_______________________________________________
Isu sektarian dituding menjadi penyebab utamanya. Rakyat Suriah yang sebagian besar Sunni, melawan segelintir penguasa yang Syiah.

Assad dan kroninya, bagaimana pun, tak sepenuhnya Syiah. Mereka Alawite. Media kerap menyebutnya Syiah Alawite.

Menurut Taufiq al-Buthi, ketua Ikatan Ulama Suriah, Alawite tak punya fondasi kuat layaknya Sunni atau Syiah.

"Kelompok ini bisa terpengaruh. Ketika mereka dekat Sunni, mereka menjadi Sunni, dan ketika dekat dengan Syiah, mereka Syiah, maka Alawite sendiri adalah kelompok yang tidak independen," ujar Taufik, yang ayahnya Syekh Ramadhan al-Buthi, seorang ulama besar Sunni, menjadi korban bom bunuh diri oleh kelompok militan pada 2013 lalu.

Ada sekitar 59 persen penganut Sunni di Suriah, 11,8 persen Syiah (termasuk 8 persen Alawite), 9 persen Kristen Ortodoks, 8,9 persen Kurdi, 4 persen Kristen Armenia, dan 3 persen Druze.

"Sangat heran apa yang telah dilakukan oleh media, dengan memutarbalikkan fakta bahwa masyarakat Suriah bertentangan mahzab satu dan agama satu dengan yang lain," kata al-Buthi, seraya menambahkan bagaimana warga Suriah yang berbeda agama hidup berdampingan.

Ia mencontohkan masyarakat di daerah Kota Tua Damaskus, "ada nama daerah Babtuma, adalah daerah yang banyak dihuni oleh komunitas Kristen Ortodoks, dan sebagian orang Yahudi, di situ juga ada orang Sunni, dan macam-macam budaya lainnya, dan dari dulu sampai sekarang tidak ada pertikaian atau konflik sperti yg diberitakan media barat," kata dia.

Kota Tua Damaskus, seperti yang dikatakan al-Buthi, ketika saya kunjungi akhir April lalu, seolah tak tersentuh konflik.

Di situ terdapat Masjid Omawi, masjid suci keempat umat Islam yang berdiri tegak sejak ribuan tahun lalu. Masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Damaskus itu dikelilingi pasar, serta kafe-kafe yang tetap hidup.

Namun kepala pengurus masjid, Isam Sukar, mengatakan setelah krisis jumlah pengunjung ke masjid yang juga menjadi daya tarik wisata Damaskus itu menurun drastis.

"Rata-rata setiap hari ada 3.000 pengunjung, namun dulu sebelum krisis [jumlahnya] 20-25 ribu per hari tergantung musim," kata Sukar.

Ia mengatakan Omawi juga sebenarnya pernah menjadi sasaran mortir, namun kerusakan kini telah diperbaiki.

Omawi sendiri pernah berganti fungsi beberapa kali seiring bergantinya penguasa, mulai dari kuil, gereja, lalu masjid.

Sejak ribuan tahun pula, menurut Muhammad Syarif Sawwaf, rektor Universitas Ahmad Kuftaro di Damaskus, tidak ada pertempuran antar sekte di Suriah.

"Dulu yang menjadi baju untuk memerangi wilayah ini adalah Perang Salib, untuk menguasai daerah Syam ini. Perang Salib itu tidak mewakili agama, semata-mata penjajahan untuk menguasai wilayah ini. Jadi krisis yang terjadi sekarang ini tidak berbeda. Dimobilisasi dengan pakaian agama untuk menghancurkan kawasan, karena mereka tahu banyak sekali sekte-sekte atau mahzab di kawasan ini," kata Sawwaf.

Menurutnya, isu sektarian mulai dimunculkan sebelum konflik meletus.

"Mereka mulai menyebarkan syiar yang terkait dengan sektarian, mereka mulai menyulut isu sektarian dengan membakar masjid atau gereja. Jadi mengusir warga Kristen yang telah lama tinggal di daerah itu, dan yang mengusir adalah yang berbaju Muslim. Selanjutnya ada juga hasutan dan pembunuhan yang terjadi dengan nama Islam atau Kristen, membunuh sekte yg lain," ujar Sawwaf.

Hassan, 51, seorang guru sekolah menengah atas di Damaskus, juga mengeluhkan isu sektarian yang kini berkembang.

Baca: Arsip Konflik Suriah

"Saya setengah Sunni, setengah Alawite. Kalau sebelum krisis, orang yang berkeyakinan setengah Alawite dan Sunni, itu biasa saja, tapi sekarang bagi yang berkeyakinan setengah-setengah jadi dicurigai dan menimbulkan masalah besar," kata Hassan berapi-api ketika ditemui di pusat kota Damaskus.

"Sumber dari masalah ini adalah Arab Saudi. Di Saudi pemikirannya keras dan pemerintah Saudi ingin negara Arab lainnya ikut Saudi. Salah satu yang diinginkan Saudi adalah perpecahan Sunni dan Syiah. Karena Saudi ingin memecah belah Sunni dan Syiah di sini yang sebelumnya damai, orang Eropa melihat ini sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Jadi Eropa pun mendukung aksi Saudi," ujarnya.

Bantahan serupa soal perang sektarian, terdengar seragam ketika berada di Damaskus. Seperti juga yang diterangkan oleh seorang Mufti Damaskus, Syekh Adnan Afyuni.

"Apa yang Anda saksikan, perang yang zolim ini, bukan timbul karena perang saudara di Suriah, dan bukan juga untuk yang dinamakan revolusi. Sebelum krisis ini, Suriah ini tempat yang sangat aman dan stabil," ujar Afyuni.

Yang terjadi, ungkapnya adalah rencana besar negara Barat untuk mendirikan "timur tengah raya yang sudah direncanakan lama sekali." Ia mengatakan bahwa mereka menggunakan momentum revolusi di Tunisia dan Mesir untuk mengguncang Suriah.

"Sangat disayangkan yang terjadi di Suriah adalah peperangan antara kubu-kubu yang sangat berpengaruh. Jika kubu-kubu dunia ini sepakat, maka krisis Suriah akan berakhir," ucap Afyuni.

Dubes Djoko sendiri, menilai campur tangan asing dalam perang Suriah memang tak bisa diabaikan.

"Bukan [hanya sektarian]. Tapi semuanya. Konflik politik, Iran dan Saudi, masing-masing punya pengaruh. Faktanya mayoritas Sunni, bukan Syiah. Ini permainan politik, permainan Barat,” ujarnya. Ia juga menyinggung isu Palestina yang tak bisa lepas dari kondisi di Timur Tengah saat ini.

"Sejak lama, inti persoalan Timur Tengah itu adalah masalah Palestina. Soal Palestina bagaimanapun kita sudah sangat aktif dalam forum internasional…. Oleh sebab itu negara Barat dengan agenda tertentu untuk menyelamatkan Israel, membuat negara Suriah ini menjadi lemah. Caranya melemahkan tentunya menjatuhkan pemerintahnya," kata Djoko.

Perundingan damai terancam

Sementara itu, gencatan senjata yang disepakati oleh Rusia dan Amerika Serikat kini terus terancam, terutama di wilayah Aleppo.

Dan di Jenewa, perundingan damai melibatkan kubu pemerintah dan pemberontak yang digagas PBB tak kunjung menemui titik temu.

Pertengahan Mei, negara-negara kekuatan dunia kembali gagal menentukan tanggal baru untuk melanjutkan kembali dialog.

"Pada dasarnya pemerintah Suriah sangat serius terhadap perundingan di Jenewa. Delegasi Saudi atau oposisi yang didkukung Saudi yang tidak bertanggung jawab dan tidak melihat kondisi bagaimana Suriah akan menjadi lebih baik, karena dasarnya Saudi tidak ingin melihat perundingan, Saudi ingin perang terus berlanjut di Suriah,” ujar Omran al-Zoubi, menteri penerangan Suriah ketika ditemui di kantornya di Damaskus.

Kelompok oposisi di lain pihak, hengkang dari perundingan akhir April lalu dan menyatakan tak akan kembali kecuali gencatan senjata dihormati secara penuh dan pemerintah memberikan akses bantuan kemanusiaan.

Beberapa kali mandek, perundingan damai kali ini pun tampaknya belum memberikan titik terang yang diharap segera mengakhiri perang Suriah.

Sumber: CNN

By