Headlines
Loading...
Tidaklah Mubadzir Langkah Kecil Kita Dalam Menegakkan Pancasila,
Bhinnekka Tunggal Ika, NKRI, & UUD 1945

Tidaklah Mubadzir Langkah Kecil Kita Dalam Menegakkan Pancasila, Bhinnekka Tunggal Ika, NKRI, & UUD 1945

Oleh: Ifan Haryanto


Belum hilang 'jetlag' setiba dari LN, saya kebanjiran menjawab telp dan pesan dari berbagai pihak terkait kehadiran Walikota Bogor dalam peresmian kantor salah satu organisasi anti Pancasila dan Anti NKRI di tanah air. Sebagian besar pesan yang masuk menyayangkan, kenapa peristiwa tersebut terjadi persis sehari setelah hajatan besar bersama PCNU Kota Bogor dengan Pemkot, Korem/Kodim,Polresta,Kejaksaan Negeri serta Muspida lainnya menggelar acara Tabligh Kebangsaan dengan tema "Mewujudkan Kota Bogor sebagai Kota Toleran demi tegaknya NKRI" dengan tausyiah yang disampaikan oleh salah satu Ulama Besar Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bi Hasyim bin Yahya (Habib Luthfi Pekalongan) yang dilaksanakan pd hari Minggu 7 Feb 2016 di Plaza Balaikota Bogor.




[caption id="attachment_15694" align="aligncenter" width="720"]Bima Arya Menghadiri Peresmian Kantor HTI Bima Arya Menghadiri Peresmian Kantor HTI[/caption]

Inti kata dari pesan yang masuk, rekan-rekan ingin menyampaikan pernyataan bahwa tabligh kebangsaan yang telah dilaksanakan adalah tindakan mubadzir karena ditengarai hanya dijadikan sebagai alat untuk mengelabui, pencitraan serta sekaligus menghapus stigma negatif terhadap Walikota Bogor yang intoleran karena berbagai peristiwa yang terjadi pada beberapa tahun terakhir (misal pada kasus penyegelan Gedung GKI Yasmin dan kasus surat edaran pelarangan perayaan Asyura-Syiah). Buktinya, sehari setelah tabligh kebangsaan Walikota hadir dalam ritual peresmian kantor satu organisasi anti Pancasila & NKRI.


Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan di atas, khususnya yang menekankan bahwa Tabligh Kebangsaan tersebut mubadzir alias tidak ada manfaat. Lepas dari manfaat politik acara tabligh kebangsaan tersebut bagi Pihak-pihak yang terlibat, Insya Allah tabligh kebangsaan yang dihadiri ribuan jamaah tsb menjadi oase bagi ummat muslim di Bogor yang merindukan tausyiah berbobot dari ulama Besar sekaliber Habib Luthfi Pekalongan, dan sekaligus sbg angin penyejuk bagi kalangan non muslim. Sesuatu yang jarang terjadi di Bogor, komunitas lintas agama turut hadir dan terlihat khusuk mengikuti ritual Dzikir serta Tausyiah yg merupakan acara inti dari tabligh kebangsaan tersebut. Dan saya percaya mereka hadir bukan sekedar formalitas "setor muka" tapi ikut terlarut dalam doa & harapan agar terwujud toleransi di Kota Bogor demi tegaknya NKRI.


Salahsatu tokoh Tionghoa non-muslim di Bogor dengan polosnya meng-upload foto bersama Habib Luthfi pekalongan pada status Facebook-nya & menyatakan kebanggaannya bisa dirangkul habib Luthfi Pekalongan pada Tabligh Kebangsaan tsb. Satu cerminan,bahwa setidaknya acara tabligh kebangsaan ini mampu menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama yg toleran, penebar kasih sayang dan kelembutan, serta Membawa Rahmat Bagi Semesta (Rahmatan lil 'Alamin)...


Saya pribadi sangat menyayangkan kenapa Walikota Bogor hadir pada ritual peresmian kantor organisasi yang jika merujuk pada Fatwa MUI ditengarai tergolong kelompok Bughat (pemberontak) terhadap pemerintahan yang sah. Saya sempatkan tabayyun (klarifikasi) ke yang bersangkutan dan menanyakan apakah betul beliau hadir dalam peresmian kantor organisasi anti Pancasila/NKRI tsb, dan beliau membenarkan kehadirannya tapi beliau hadir dalam kapasitas sebagai pemimpin yang perlu mengayomi dan merawat silaturahmi dengan berbagai kelompok masyarakat, seraya menambahkan bahwa tidak perlu mempermasalahkan setiap perbedaan agar energi kita tidak habis. Persamaan harus dikedepankan. Dalam hal ini beliau menemukan persamaan semangat dengan organisasi tersebut di dalam melihat musuh bersama: kemiskinan, pengangguran, HIV/AIDS, korupsi dan kriminalitas.


Alasan diatas menurut saya mencerminkan bahwa beliau gagal paham bahwa mengayomi gerakan organisasi anti NKRI adalah tindakan yang blunder dan inkonstitusional. Beliau mungkin juga lupa, sebagai pejabat negara menghadiri peresmian kantor organisasi anti NKRI sama saja dengan mengakui eksistensi/keberadaan mereka. Kurang yakinkah beliau mengatasi berbagai persoalan pembangunan yang ada di Kota Bogor dengan dukungan rakyat yg mencintai NKRI? Mudah-mudahan apa yang yg dilakukan beliau semata karena kekhilafan dan kealpaan sebagai manusia biasa. Jika benar khilaf adanya, tidak ada salahnya kita mengingatkan dan membimbingnya kembali ke jalan yang benar.


Pada akhirnya saya ingin menegaskan sekali lagi keyakinan saya bahwa tidaklah Mubadzir setiap upaya sekecil apapun yg kita curahkan untuk meneguhkan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 dlm kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi potensi rongrongan dan gangguan terhadap 4 pilar dalam berbangsa dan bernegara tsb selalu ada setiap saat. Demikian pula saya sangat meyakini bahwa Tabligh Kebangsaan yg telah dilakukan di Plaza Balaikota Bogor tempohari juga bukan sesuatu yg Mubadzir. Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai wujud amalan Mencintai Tanah Air adalah Sebagian Daripada Iman, Hubbul Wathon Minal Iman. Amin yra.


Ifan Haryanto, Ketua Tanfidz PCNU Kota Bogor

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia