KH Zainal Mustafa, Kiai Perlawanan dari Singaparna

0 58

Oleh: Agus Salim

Ia orang biasa, belajar di pesantren dan akhirnya mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional.  Siapakah sosok ini?

Nama kecil KH. Zainal Mustafa adalah Umri, dan terkadang dipanggil Hudaemi. Perihal tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya tidak ada informasi valid. Ada yang menyebut tahun 1901, sebagian lagi mengatakan tahun 1899. Bapaknya bernama Nawapi, seorang petani Muslim di Kampung Bageur-Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara ibunya bernama Ratmah, seorang ibu rumah tangga.

Ilustrasi - Kehidupan di Masa Penjajahan
Ilustrasi – Kehidupan di Masa Penjajahan

Umri mulai belajar serius belajar ilmu-ilmu Islam di Pesantren Gunung Pari yang dipimpin Ajengan Zainal Mukhsin. Kebiasaan belajar Umri pun berpindah-pindah sebagaimana lazimnya sebagai seorang santri kelana. Setelah 7 tahun di Gunung Pari, Umri nyantri di Pesantren Jamais, diteruskan ke Pesantren Sukaraja, Garut. Setelah itu meneruskan ke Pesantren Sukamisikin, Bandung. Di pesantren ini Umri mengubah nama menjadi Hudaemi.

Dari Sukamiskin ini Hudaemi balik ke Tasikmalaya dan berguru ke Kyai Muttaqien di Pesantren Cilenga, Singaparna. Kecerdasannya yang menonjol membuatnya dipercaya sebagai asisten Kyai Muttaqien. Hudaemi memiliki keinginan suatu saat bisa mendirikan dan mengelola pesantren.

Keinginannya itu kemudian terwujud. Pada 1927 sebuah pesantren berdiri di Kampung Bageur Cikembang Girang, Desa Cimerah, Singaparna. Semula pesantrennya memiliki tiga pondok,dan kemudian berkembang menjadi enam pondok. Pada tahun 1937 Hudaemi pun menunaikan ibadah haji. Pada momentum ini ia mengubah namanya menjadi Zainal Mustafa.

Subhan SD dalam buku Ulama-Ulama Oposan menyatakan, sekembali dari Mekkah, KH Zainal Mustafa melakukan aktivitas keilmuan, di antaranya, menerjemahkan Al-Qur’an dan kitab-kitab lain ke dalam bahasa Sunda. Meski begitu kepada para santrinya, KH Zainal Mustafa tetap mewajibkan bahasa Arabsebagai bahasa utama yang dipelajari dalam belajar ilmu-ilmuIslam. Di pesantrennya juga diajarkan Sejarah Indonesiadengan materi kecintaan dan pembelaan Tanah Air. Karena langkahnya ini KH Zainal Mustafa diawasi polisi intelijen kolonial (Politieke Inlichtingen Dienst), dan beliau tahu tentang ini. Prinsip yang dipegangnya adalah hubbul wathon minal iman; cinta tanah air adalah bagian dari iman.  

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...