KH. Zainal Mustafa, Kiai Perlawanan dari Singaparna (Bagian 2-Habis)

0 81

Oleh: Agus Salim

Ia seperti orang muslim kebanyakan. Bedanya, ia tekun belajar agama dan menjadikan pemahaman keagamaan ini sebagai kekuatan untuk melawan penjajah ketika masa revolusi pecah. Pemahaman itu tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Sedari kecil, Umri kecil mempunyai minat tinggi terhadap ilmu-ilmu agama. Dalam usia 7 tahun, Umri belajar di Volksschool (Sekolah Rakyat) dan sorenya belajar Tajwid, Nahwu, Shorof, Fiqih, Tauhid, dan lain-lain di madrasah. Ia ingin kelak belajar di pesantren.

Ketika tamat Sekolah Rakyat, Umri sudah hafal Al-Qur’an. Beberapa tahun setelahnya, tatkala ia mulai dewasa dan Jepang datang serta mulai melakukan penjajahan, ia melakukan perlawanan.

[tps_title]Perlawanan di Hari Jum’at[/tps_title]

Perlawanan di Hari Jum’at

Bagi KH Zainal Mustafa dan santri, mereka bersikap akan melawan jika Jepang menyerang meski sadar bahwa Jepang sangat kuat dan kejam. Tujuan utamanya bukan untuk mengalahkan Jepang, tapi untuk menunjukkan bahwa rakyat Indonesia akan bangkit dan melawan jika selalu ditindas.

Baca: KH. Zainal Mustafa Kiai Perlawanan Singaparna (Bagian 1)

Pada 23 Februari 1944 Jepang mengirim utusan ke pesantren. Mereka mengancam KH Zainal Mustafa, para santri, dan penduduk desa. Esoknya, 24 Februari, Jepang mengerahkan pasukan Kempetai yang dipimpin pejabat lokal yang memihak Jepang seperti Camat Cakrawilaksana, Sastramaun (Lurah Cimerah), Suhandi (juru tulis), dan Muhri (Kepala Kampung Punduh). Mereka ingin meringkus KH Zainal Mustafa.

Terjadi bentrok fisik dengan para santri. Senjata-senjata Jepang berhasil direbut yaitu 12 senapan, 3 pucuk pistol, dan 25 senjata tajam.Senjata-senjata itu disimpan dan tidak digunakan. KH Zainal Mustafa sadar, Jepang pasti akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.

Pada 25 Februari 1944 sebelum pelaksanaan Shalat Jum’at, KH Zainal Mustafa menyampaikan hal itu, kemudian memberi kebebasanpilihan jika ada santri memilih mengundurkan diri atau pulang ke kampung masing-masing. Semua santri ternyata lebih memilih ikut melawan.

Saat khutbah Jum’at, Jepang mengepung rapat pesantren dan masjid. KH Zainal Mustafa meminta jamaah tenang dan menyelesaikan Shalat Jum’at.Setelah itu ditemuinya pasukan Kempeitai di Gunung Bentang. Seorang perwira Jepang minta agar berbicara di masjid. Tapi ketika bicara, nadanya begitu congkak sambil mengancam KH Zainal Mustafa akan dihukum berat.

Setelah itu perwira Jepang itu membujuk lagi; KH Zainal Mustafa tidak akan dihukum asal mau minta ampun. Jamaah pun tersinggung karena perkataan perwira Jepang, bahwa jika satu orang Jepang mati maka harus ditebus seribu nyawa orang Indonesia. Suasana pun berubah gaduh, dan Jepang telah bersiap.Saat itu juga KH Zainal Mustafa mengeluarkan komando perlawanan. Perkelahian pun pecah!

Dalam perkelahian di persawahan, tiga polisi Jepang tewas dan satu melarikan diri. Melihat ini Jepang pun marah besar. Selanjutnya dikirim 6 kompi tentara,dan Desa Sukamanah pun dikepung dari tiga arah; selatan, timur, dan utara. Menjelang Ashar, Jepang dengan menggunakan kendaran lapis baja berusaha menerjang pesantren. Mereka juga sengaja memaksa beberapa penduduk desa berdiri di barisan depan. Cara licik ini membuat para santri menjadi ragu karena berhadapan dengan rakyat sendiri. Melihat hal ini KH Zainal Mustafa memerintahkan untuk tidak melakukan perlawanan dulu.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...