Headlines
Loading...
Menghilangkan Teroris dan Terorisme Dari Akarnya

Menghilangkan Teroris dan Terorisme Dari Akarnya

Oleh: Edy M Ya'kub


Pernah nonton film kartun "Avatar: The Legend of Ang" yang menampilkan Ang sebagai jagoan pengendali air, angin, dan api?.




[caption id="attachment_15566" align="aligncenter" width="720"]ilustrasi-terrorism-shutterstock Ilustrasi Terrorism Shutterstock[/caption]

Dengan kondisi yang mirip itulah, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan Islamic State of Iraq and Shuriah (ISIS) mampu "mengendalikan" jamaahnya.


Kemampuan "pengendali" itulah yang membuat sejumlah orang pun "hijrah" (baca: menghilang) ke Kalimantan (untuk Gafatar) dan ke Syiria (untuk ISIS).


Jumlah mereka yang "hilang" pun tidak sedikit, mengingat anggota Gafatar di Jatim saja diduga mencapai 945 orang dan secara nasional mencapai ribuan.


Angka itu diungkap mantan Ketua Dewan Pimpinan Gafatar Surabaya, Riko. "Anggota Gafatar di Jatim sebanyak 945, sedangkan di seluruh Indonesia sekitar 10 ribu," katanya di Surabaya (13/1).


Untuk jumlah yang "dihilangkan" ISIS masih belum terungkap secara pasti, karena keanggotaan ISIS pun tidak terlacak, namun diduga jumlahnya juga tidak sedikit.


Yang menarik bukan hanya jumlah keanggotaan, namun profesi anggota juga menarik ditelisik, karena mereka bukan lagi kalangan miskin, tapi kelompok mapan dan bahkan intelektual.


Misalnya, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Erri Indra Kautsar (19) yang "menghilang" sejak Agustus 2015, tentu mahasiswa Prodi Elektronika itu bukan sosok yang biasa saja secara keilmuan.


"Kami tidak tahu ke mana, karena dia sudah lama tidak masuk, lalu kami surati orang tuanya," kata Staf Public Relation Bidang III/Kemahasiswaan PENS Andri Suryandari di sela kunjungan bersama mahasiswa ke kantor LKBN Antara Jatim di Surabaya (12/1).


Ayah Erri, Suharijono, mengatakan, "Erri meninggalkan rumah sejak 17 Agustus 2015 dan belum kembali hingga saat ini," katanya saat ditemui di rumahnya di Perumahan TNI AL Jalan Suripto, Kenjeran, Surabaya (12/1).


Ia mengetahui Erri bergabung dengan Gafatar sekitar semester II dan menghilangnya itu saat dia masih di semester IV.



[tps_title]Robohkan NKRI[/tps_title]


Kendati sama-sama diduga terkait radikalisme, drama baku tembak polisi dengan tujuh terduga teroris ISIS di kawasan Thamrin, Jakarta pada 14 Januari 2016 justru mirip film kartun "Avatar".


Dibalik "kekonyolan" baku tembak polisi-terduga teroris yang jadi tontonan itu, kemampuan polisi menjadi "pengendali" teroris dalam baku tembak itu mengundang apresiasi dari berbagai pihak.


Antisipasi terhadap Gafatar, ISIS, dan kelompok radikal itu sangat penting, bahkan langkah antisipasi "membunuh" terorisme itu mungkin jauh lebih penting daripada sebatas "membunuh" teroris.


Hal itu karena kelompok pengusung terorisme atau radikalisme itu secara tersamar memiliki tujuan jangka panjang yakni membentuk negara atau kepemimpinan baru (khilafah) yang merobohkan NKRI.


Contohnya, Gafatar. Buku pedoman pengurus Gafatar memiliki beberapa poin penting mengenai tahapan mengikuti dan mencontoh pola yang dijalankan Nabi Musa AS.


Pertama mendakwah secara selektif, kedua mendakwah secara terang-terangan, ke tiga hijrah, ke empat berperang, ke lima memperoleh kemenangan, dan ke enam berhasil mewujudkan kepemimpinan dunia.


Oleh karena itu, peneliti gerakan radikalisme dari UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Prof Akhmad Muzakki MAg Grad.Dipl.SEA MPhil PhD menegaskan bahwa radikalisme merupakan fenomena yang menuntut NU-Muhammadiyah untuk mengubah gaya berdakwah.


"Masyarakat saat ini mulai banyak yang kelompok produktif, tapi mereka rindu dengan nilai-nilai spiritual. Kelompok mapan itu juga ingin ketenangan, tapi spiritualitas yang diharapkan tidak ditemukan pada NU dan Muhammadiyah," katanya.


Saatnya, NU-Muhammadiyah tidak langsung bicara hukum (peraturan) Islam dalam berdakwah, karena Nabi Muhammad SAW justru mengawali Islam dengan akhlak, atau para walisongo yang memanfaatkan "pintu" budaya, sehingga terorisme pun mati, bukan sekadar teroris yang terbunuh.



Sumber: RimaNews

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia