Menag Ingin Perbaiki Citra Nabi Muhammad dalam Pendidikan Islam

Menag Ingin Perbaiki Citra Nabi Muhammad dalam Pendidikan Islam

[caption id="attachment_15268" align="aligncenter" width="2020"]Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Photo: DitPDPontren Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Photo: DitPDPontren[/caption]

JAKARTA, ARRAHMAH - Kementerian Agama akan memperbaiki citran Nabi Muhammad SAW, yang selama ini lebih ditonjolkan sebagai sosok gemar perang dibanding pribadi yang toleran dan penebar kasih sayang di dunia pendidikan Islam.


"Dari riset Litbang Kemenag diketahui jika siswa mempersepsikan Rasul sebagai sosok yang senang berperang daripada kebaikan yang lainnya," kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin saat berbicara di depan hadirin Milad ke-15 Yayasan Roushan Fikr di Jombang, Jawa Timur, Sabtu, 9 Januari 2016.


Menurut Politisi Partai Persatuan Pembangunan ini, materi pendidikan "sirah nabawiyah" di kelas lebih banyak diceritakan soal berbagai perang yang melibatkan Nabi Muhammad seperti Perang Badar dan Perang Uhud.


Sayangnya, lanjut Lukman, sisi lain dari Nabi Muhammad justru kurang terekspos seperti tentang keteladanan Rasulullah SAW yang mengajarkan kasih sayang dan toleransi.


Parahnya pendidikan Islam yang mencitrakan Nabi SAW yang cenderung dekat dengan kekerasan ini, kata dia, diperkuat dengan masuknya budaya global negatif yang kian gencar. Di antaranya seperti muatan kekerasan yang disampaikan lewat "game" dan film sehingga perlahan tapi pasti kekerasan itu semakin membekas di pikiran anak-anak.


"Ini yang ingin coba dilengkapi secara menyeluruh untuk menjelaskan sosok Rasul itu," kata dia.


Kemenag, kata Menag, akan berupaya merancang rumusan besar tentang pelajaran keagamaan itu bisa membuat generasi muda lebih memahami inti dari agama itu sendiri. Di Islam, sebaiknya didorong untuk menuju Islam yang moderat sesuai arti Islam secara bahasa yaitu keselamatan. Dengan kata lain, Islam yang dikembangkan bukan sebagai agama yang ekstrim.


"Substansi agama itu harus mampu mensejahterakan sesama, menjadikan manusia sebagai lazimnya manusia, menjunjung harkat martabatnya," kata Lukman. (Tempo.co)

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: