Ironi Bisnis Amoral, Indonesia Darurat Narkoba

Badan Narkotika Nasional menggerebek gudang mebel di Desa Pekalongan RT 07 / RW 02, Kecamatan Bate Alet, Jepara, Rabu (27/1/2016), dan berhasil menemukan sekitar 100 kilogram sabu
Badan Narkotika Nasional menggerebek gudang mebel di Desa Pekalongan RT 07 / RW 02, Kecamatan Bate Alet, Jepara, Rabu (27/1/2016), dan berhasil menemukan sekitar 100 kilogram sabu. Photo: Tribun Jateng

Terungkapnya jaringan sabu-sabu skala internasional di Mebel CV Jepararaya Int’l dengan melibatkan WNA asal Pakistan menjadi potret buram awal tahun 2016. Peredaran sabu-sabu ratusan kilogram berdalih bisnis mebel yang dikemas dalam 194 unit genset merupakan modus operandi yang profesional.

Oleh: M. Rikza Chamami

Terungkapnya jaringan sabu-sabu skala internasional di Mebel CV Jepararaya Int’l dengan melibatkan WNA asal Pakistan menjadi potret buram awal tahun 2016. Peredaran sabu-sabu ratusan kilogram berdalih bisnis mebel yang dikemas dalam 194 unit genset merupakan modus operandi yang profesional.

Sebagaimana diberitakan, sabu-sabu dibungkus dalam plastik berlapis karbon dengan paket kecil diedarkan berkedok bisnis furniture. Jaringan ini telah beroperasi secara canggih dan mampu menghasilkan miliaran rupiah.

Yang menjadi masalah adalah pada bisnis haram akan mengakibatkan rusaknya moral bangsa Indonesia. Penyelundupan sabu-sabu dengan jaringan Pakiskan dengan melewati rute Tiongkok ini menandakan Indonesia memiliki pasar dagang sabu-sabu yang cukup tinggi.

Maka ini penting untuk dikaji secara mendalam. Usaha Badan Narkotika Nasional (BNN) memberantas jaringan peredaran sabu-sabu perlu ditingkatkan dengan menggandeng semua pihak berwenang.

Tidak menutup kemungkinan hingga kini masih tersisa jaringan internasional di luar Pakistan yang menerobos pasar bebas Indonesia. Jika memang Indonesia dianggap sebagai pasar narkotika dengan tingkat konsumen bagus, maka mutlak untuk memutus matai rantai bisnis haram ini.

Perilaku bisnis amoral inilah yang menjadikan bangsa Indonesia rusak moralnya. Agama yang sudah menjadi penciri masyarakat hilang begitu saja ketika narkoba dan minuman keras beredar bebas. Apalagi jika generasi muda sudah mulai menjadi pengguna dan pecandu.

Jaringan bisnis amoral ini merupakan cikal bakal bisnis beromset besar. Jika mereka dibiarkan masuk lewat jalur perdangan darat, laut dan udara, maka rasa malu bangsa ini menjadi semakin besar. Tapi jika BNN tegas memutusnya, Indonesia akan harum kembali namanya.

Selain memutus mata rantai bisnis amoral itu, ada hal penting lainnya yang dibutuhkan, yakni menyadarkan pengguna dan pecandu. Mereka yang menjadi bagian WNI perlu diarahkan kembali bahaya narkoba, termasuk sabu-sabu.

Pasar dagang narkoba memang perlu segera ditutup. Pemerintah yang pernah menyatakan darurat narkoba seyogianya bangkit kembali menata stake holder dalam mengungkap seluruh jaringan bisnis narkoba ini.

Dengan itu, impian 2016 menjadi Indonesia bebas dari narkoba akan bisa terwujud. Sebab itu adalah usaha mulia menjadikan Indonesia sebagai negara bermoral.*)

M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.