Hikmah di Balik Tempat Angker
Setelah 15 tahun lalu, baru sekarang saya masuk dan keliling kota Bekasi ini. Mall luar biasa banyak, sampai mereka menyebutnya Surabaya Kota Pahlawan Bekasi Kota Mall.

Seakan tak dibiarkan sejengkalpun tanah didirikan hotel, ruko, mall, atau lainnya. Nampak beberapa tanah kosong di situ, kiri kanannya sudah berdiri bangunan hotel dan ruko.

"Tapi sekarang Bekasi sering banjir Pak, karena ya daerah resapan airnya dijadikan bangunan-bangunan itu"



Tiba-tiba perhatian kami tertuju ke sebuah bangunan mangkrak di pinggir sungai kecil. Lalu saya tanyakan kenapa.

"Itu sudah sejak tahun 2000an Pak"

Berarti sudah 10 tahun lebih bangunan (yang baru 20% jadi itu) berdiri mengganggu pemandangan. Pak sopir bilang kontraktornya sudah menyerah sebab terlalu angker. Bahkan bachoe alat berat model traktor pernah lenyap begitu saja ketika kecemplung ke sungai yang mirip selokan itu. Selanjutnya dikisahkan sudah banyak dukun terkenal didatangkan ke sana dan tidak berhasil menetralisir si angker itu.

Secara spontan tiba-tiba saya katakan "Alhamdulillah, masih ada daerah angker."

Semua orang terperanjat mendengar pernyataan saya. Seperti biasa dikiranya saya syirik, klenik, atau tahayul. Saya jelaskan bahwa makin banyak hutan yang dibilang angker atau rawa yang dikatakan "berpenghuni" maka akan makin lestari alam kita. Daerah resapan air akan tetap terjaga.

Bahkan kalau keangkeran itu bisa saya atur, barangkali para pengusaha serakah akan berpikir 1000x kalau mau membabat hutan. Sebab bisa jadi bukan traktor saja yg tiba-tiba lenyap.

Tinggal para dukun itu saja yang perlu kita beri informasi, jangan gampang menerima job yang akan berefek merusak alam sekitar dan apalagi berakibat bencana.

@Bekasi

- Kolom Dr. Agus Zainal Arifin


Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: