Headlines
Loading...
[caption id="attachment_11509" align="aligncenter" width="640"]KH Sahal Mahfudh Saat di Munas-Konbes NU 2012 KH Sahal Mahfudh Saat di Munas-Konbes NU 2012[/caption]

Oleh: Dr Jamal Ma’mur Asmani*

Momentum haul pertama Kiai Sahal seyogianya mendorong warga NU melanjutkan gerakan kiai besar itu”

Pada Selasa, 13 Januari 2015 bertepatan dengan 22 Rabiulawal 1436 H, KH MA Sahal Mahfudh telah satu tahun meninggalkan kita. Keluarga menggunakan kalender hijriah untuk memperingati haulnya. Pemikiran Mbah Sahal hingga kini selalu menginspirasi kita. Ia kombinasi pemikir, aktivis, fiqh dan ushul fiqh (Gus Mus, 2014).

HAUL KIAI SAHAL IFikih sosial yang dilahirkan membuktikan wawasan luas Kiai Sahal karena mampu mengintegrasikan dan menginterkoneksikan ilmu fikih dengan ilmu lain, seperti sosial dan filsafat. Ia mampu menggabungkan teks fikih dengan maqasidus syariah sebagaimana dilakukan para sahabat (Saídullah As-Saíidi, 2014).

Kemaslahatan umat menjadi sumber pemikiran dan gerakan sosialnya yang terinspirasi oleh ayahandanya, KH Mahfudh Salam (Tutik Nurul Jannah, 2014). Karya-karyanya, baik intelektual maupun sosial, jadi sumber kajian dan penelitian yang tidak pernah kering sepanjang masa.

Keteladanannya menjadi rujukan penting bagi seluruh elemen bangsa dalam mengawal agenda reformasi. Salah satu keteladanan penting Kiai Sahal adalah kekonsistenan menjaga khitah ketika memimpin organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Khitah adalah garis-garis besar kebijakan yang menjadi dasar berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan.

Salah satunya adalah menempatkan diri dalam posisi netral dan independen dari seluruh tarikan kepentingan politik praktis. Penegakan khitah ini membutuhkan kapasitas intelektual, moral, dan finansial memadai. Kiai Sahal, selain seorang alim, juga aktivis sosial dan entrepreneur andal. Sentuhan tangan dinginnya membuahkan banyak karya, seperti biro pengembangan pesantren dan masyarakat, rumah sakit Islam, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi, Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (Staimafa), dan sebagainya.

Dalam pilkada, Kiai Sahal menunjukkan netralitasnya. Ia mengingatkan pengurus struktural NU untuk tidak membawa-bawa NU dalam ajang politik praktis karena akan merusak persaudaraan di internal NU, menyalahi khitah, dan mengabaikan tugas utama NU membimbing dan memberdayakan umat.

Ketegasan Sikap

Ketika KH Hasyim Muzadi menjadi calon wakil presiden, Kiai Sahal menonaktifkannya dari jabatan ketua umum PBNU. Kiai Sahal juga memperingatkan Hasyim Muzadi ketika terlibat dalam aksi dukung-mendukung pilkada. Ketegasan Kiai Sahal membuatnya berwibawa dan disegani semua pihak.

Ketegasan inilah yang membuat Kiai Sahal terpilih menjadi Rais Aam PBNU selama tiga periode berturut-turut, sejak Muktamar ke-30 di Lirboyo 1999 sampai Muktamar NU ke-32 di Makassar 2010.

Konsistensinya dalam menegakkan khittah dilandasi dua faktor. Pertama; menjaga persaudaraan antarwarga NU yang tersebar di semua partai politik. Jika pemimpin NU menganakemaskan salah satu partai maka kader yang ada di partai lain akan lari dari NU dan apatis terhadap program NU.

Kedua; mendorong pengurus dan warga NU untuk kembali kepada tujuan awal berdirinya NU, yaitu mengembangkan ajaran ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) dan menyejahterakan masyarakat. Berdirinya NU tak lepas dari trilogi gerakan, yaitu gerakan pemikiran dalam tashwirul afkar, gerakan ekonomi yang ada dalam nahdhatut tujjar, dan gerakan kebangsaan dalam nahdlatul wathan.

Tiga spirit gerakan ini harus terus termanifestasi dalam gerak langkah NU. Momentum haul pertama Kiai Sahal seyogianya mendorong pengurus dan warga NU untuk melanjutkan gerakan kiai besar itu di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kebangsaan. Hal ini bisa diwujudkan dengan aktif meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, kreatif mengembangkan potensi ekonomi menuju kemandirian warga dan organisasi, meningkatkan kualitas kesehatan, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (RMI Jateng)

*Santri Kiai Sahal Mahfudh, peneliti dari Fiqh Sosial Institute Staimafa Pati

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia