Menapak Jejak, Mengenal Watak – Kehidupan Ringkas 29 Tokoh Nahdlatul Ulama

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Menapak Jejak Mengena Watak - Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU
Menapak Jejak Mengena Watak – Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU. Image: Alizawawie blog

Judul : Menapak Jejak, Mengenal Watak – Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU

Penerbit : Yayasan Saifuddin Zuhri

Editor : Saifullah Ma’shum

Tim Penulis : Abdlul Halim Hasan, Abdul Mun’im DZ, Ahmad Mujib Rahmat, Ali Zawawi, Arief Mundatsir Mandan, Arifin Junaidi, Choirul Anam, Effendi Choirie, Hamid Ahmad Masduki Baidlawi, Muntaha Azhari, Lukman Hakim Saifuddin, Said Budairy, Saifullah Ma’shum, Slamet Basyid

Tahun Terbit : 1994 (cet. I), 2012 (cet. II)

ISBN : 979-8719-00-X

Dimensi : xx + 459 hlm.; 14,5 cm x 21 cm 

PENGANTAR – Menapak Jejak, Mengenal Watak – Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU

Oleh: KH. Musthofa Bisri

SUATU malam di tanah suci pada tahun 1987, saya bersama kiai Sahal Mahfudz, Gus Dur, dokter Fahmi Saifuddin, dan Abdullah Syarwani, sowan dengan niat sulaturrahim dan ngaji ke kediaman tokoh alim dan penulis kenamaan di Timur Tengah berkebangsaan Indonesia, asy-al-Makky, rahimahullah.

Di antara yang menjadi pembicaraan dalam kesempatan silaturrahim itu adalah mengenai tokoh-tokoh ulama Indonesia yang menurut Syeikh Yasin―begitu panggilan akrab tokoh yang sangat dihormati ini―kualitas keulamaan mereka tidak banyak dikenal di dunia Islam karena tidak ada yang memperkenalkan mereka. Tulisan tentang mereka hampir tak ada.

Syeikh Yasin sendiri mempunyai rencana menu­lis Thabaqaat al ‘Ulama al-Indonesia. Kitab tentang tokoh-tokoh ulama Indonesia. Bahkan satu jilid di antaranya telah rampung beliau tulis.

Namun ya itu, kata beliau, “kesulitannya adalah memperoleh bahan-bahan bagi penulisan tokoh-tokoh kiai tersebut. Dari kalangan pesantren sendiri, jarang sekali dijumpai tulisan tentang tokoh ulama”.

“La coba saja,” kata beliau, “anak-anak mereka sendiri dimintai bahan tentang orang tua mereka, nggak kunjung mengirimkannya!”

Memang. Entah mengapa budaya menulis, khususnya menulis sejarah kehidupan tokoh-tokohnya sendiri tidak berkembang di kalangan pesantren. Padahal semua menyadari pentingnya. Padahal khazanah mereka sarat dengan kitab-kitab tarikh kehidupan tokoh, baik tentang seorang tokoh maupun tentang sejumlah tokoh macam taraajim dan thabaqat-thabaqat.

Buku atau kitab tentang tokoh NU bisa dihitung dengan jari. Yang paling lengkap barangkali “Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasim dan karanganTersiar” yang disusun oleh H. Aboebakar, Kepala Bagian “D” Kementrian Agama berdasarkan SK Menteri Agama RI (waktu itu, KH. Mohammad Ilyas).

Buku terjemah atau biografi lainnya yang saya ketahui adalah tentang KH. A. Wahab Chasbullah oleh Prof. KH. Saifuddin Zuhri; tentang KH. Bisri Syansuri oleh Gus Dur; tentang KH. Ma’shoem Lasem oleh Sayyid Haidar; tengtang KH. R. Asnawi, Kudus yang disusun oleh keluarga dalam rangka haul beliau.

Riwayat hidup Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari justeru saya temukan belakangan dalam kitab cetakan Kuwait dan disusun oleh Sayyid Muhammad Asad Syihab dengan judul agak panjang: Al-‘Allaamah Asy-Syeikh Muhammad Hasjim Asj’ari Waadli ‘ulabinati istiqlaali Indonesia (Al-Allamah Kiai Muhammad Hasjim Asj’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia).

Berbicara tentang “budaya tulis menulis” di kalangan NU, mungkin Pak Saifuddin Zuhri termasuk, kalau tidak satu-satunya, pengecualian. Beliau bukan saja penulis yang produktif, tapi juga aktif merekam sejarah tentang tokoh-tokoh kiai pesantren. Dari tangan beliau lahir banyak tulisan yang bukan saja sangat bermanfaat bagi NU dan warganya, tapi juga bangsa Indonesia secara umum. Fajazaahullahu ‘anna ahsanal jaza.

Dari tangan beliau, muncul buku-buku antara lain: Almaghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah Bapak dan Pendiri NU yang sudah disinggung di atas, Guruku Orang-orang dari Pesantren, dan Berangkat dari Pesantren, sebuah otobiografi beliau sebagai pelaku dan pembuat di republik kita ini.

Maka tidaklah mengherankan―bahkan mungkin sudah seharusnya―jika sekaran ini, sebuah yayasan bernama Yayasan Saifuddin Zuhri menerbitkan suatu buku kumpulan tokoh-tokoh pesantren, tokoh-tokoh NU.

Barangkali seperti apa yang ingin ditulis Syeikh Yasin, Allah yarhamuh―seperti juga thabaqaat-thabaqaat yang lain―apa yang ingin dipersembahkan oleh Yayasan Saifuddin Zuhri adalah kumpulan biografi para tokoh dengan satu kriteria dasar, dalam hal ini adalah ke-kiaian (baca:ke-ulama-an, dan ke-Indonesia-an di NU).

Kiai mengenal banyak buku-buku atau kitab kumpulan tokoh-tokoh dengan satu kriteria dasar yang ― galibnya bisa dilihat dari judulnya ― seperti Thabaqaat-nya Syeikh Yasin itu. Ambil contoh Asad Al-Ghababah oleh Ibn al-Atsier tentang para sahabat Nabi; Tariekh al-Khulaffa oleh al-Hafifdh Jalaluddin as-Suyuthy dengan kriteria dasar ke-khalifah-an; Thabaqaat as-Shuufiyah oleh Abu Abdurrahman as-Sulamy dengan kriteria dasar ke-sufi-an; Jamharat al-Auliyaa oleh as-Sayyid M

ahmoud Abu al-Faidi al-Manouty al-Husainy dengan kriteria dasar ke-wali-an; The 100, Rangking of the Most Influental Persons in History oleh Michael H. Hart (diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi dengan judul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah) dengan kriteria dasar ke-berpengaruh-an (?) dalam sejarah; The Dictators oleh Jules Archer dengan kriteria dasar, tentu saja, ke-diktator-an; dan masih banyak lagi.

Kecuali bila kita akan menulis semua tokoh kia dan ini tentu tidak mungkin, maka kriteria dasar ke-kiai-an itu saja tentulah tidak cukup. Apalagi meski­pun sudah dipersempit dengan tambahan “NU”, kriteria kiai ternyata tidak sejelas, misalnya, kriteria sahabat Nabi, kriteria khulafa, atau diktator.

Karena itu Yayasan Saifuddin Zuhri telah mene­tap­kan kriteria-kriteria lain, di samping kriteria ke-kiai-an tersebut, antara lain pernah menjadi pengurus syuriah, mustasyar NU atau jabatan struktural lain di dalam NU pada tingkat nasional atau lokal; sudah wafat dan diutamakan yang memimpin pesantren dan seterusnya.

Namun demikian, dengan menampilkan “hanya” 26 tokoh kiai, boleh jadi masih saja akan timbul pertanyaan seperti: kenapa hanya duapuluh enam? dan kenapa mereka itu yang ditampilkan?

Kalau benar akan ada pertanyaan demikian ya biar saja. Agaknya kita harus memaklumi kesulitan Yayasan Saifuddin Zuhri dan para penulisnya yang hampir seluruhnya angkatan muda. Rentang waktu yang cukup panjang dan sedikitnya literatur yang tersedia, merupakan alasan yang cukup masuk akal sebagai jawaban.

Barangkali bisa menjadi salah satu bukti bahwa dari 26 tokoh yang ditampilkan kali ini, uraian yang relatif lebih luas justeru menyangkut mereka yang hidup belakangan. Bandingkan misalnya, uraian tentang KH. Bisri Syansuri (1886-1980) dan KH. Machrus Ali (1906-1985) yang mencapai masing-masing 20 dan 21 halaman dengan misalnya, KH. Ridlwan Abdullah (1884-1962) yang hanya 12 halaman dan KH. Abbas, Buntet yang hanya 9 halaman saja.

Disamping itu, mungkin yang lebih penting lagi: tampaknya yayasan dan para penulisnya ― karena alasan yang barangkali sama ― juga mengalami kesulitan untuk menangkap “sudut pandang” yang tepat dalam membidik sosok masing-masing tokoh yang ditampilkan. Dan inipun, bila benar, juga bisa dimaklumi. Satu dan lain hal karena rata-rata tokoh yang ditampilkan memang memiliki tidak hanya satu “sudut keistimewaan” yang menonjol. Contoh yang segera dapat kita lihat adalah sosok tokoh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau tidak hanya pendiri NU dan tokoh sentral yang memberi inspirasi perjuangan para kiai; apalagi sekadar pembela kaum bermadzhab. Mereka yang membaca Muqaddimah Qanun Asasi NU saja, akan segera tahu bahwa beliau lebih dari semua. (Bahkan Sayyid Muhammad Asad Shihab ― konon kakek dari Dr. Quraish Shihab ― menulis biografi beliau dalam bahasa Arab berjudul Al’Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadli’u Labinati Istiqlali Indonesia yang kalau diterjemahkan secara harfiah: Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia.

Namun itu semua bagi saya tidak mengurangi arti penting dari usaha penerbitan ini. Bahkan menurut saya, yang lebih penting dan pantas sekarang adalah mensyukuri terbitnya buku ini. Buku yang sudah lama dinanti dan sudah sering diusulkan oleh banyak warga NU sendiri di berbagai kesempatan. Penyempurnaan berikutnya akan dapat dilakukan atau malahan untuk itu, saya yakin, akan mendapat bantuan dari berbagai pihak yang telah membacanya.

Dengan demikian keteladanan para tokoh NU yang selama ini hanya menjadi “buah bibir” sepenggal-sepenggal dalam konteks mau’idhah atau nostalgia, akan dapat dibaca dan dipelajari dengan lebih intens dalam porsi yang lebih utuh.

Sekali lagi, kita semua sungguh mensyukuri dan sangat menghargai upaya dari pihak Yayasan Saifuddin Zuhri yang tak ternilai ini. Semoga ini dicatat Allah pula sebagai amal jariah yang lestari.

Dan mudah-mudahan buku ini masih akan “bersambung” bahkan menjadi semacam “serial tokoh NU” yang akan menyempurnakan manfaatnya bagi generasi NU khususnya dan masyarakat ramai pada umumnya.

Wallahu Yuwaffiquna ila ma fiehi khairul Islami wal muslimin

Loading...