Pondok Pesantren pun Makin Membuka Diri pada Internet

Pondok Pesantren pun Makin Membuka Diri pada Internet

RMI-NU, SURABAYA: Ratusan pondok pesantren (ponpes) di Jawa Timur mulai menyadari pentingnya teknologi komunikasi. Melalui program "internet sehat dan aman (insan) goes to pesantren", komunitas yang awalnya menabukan dunia maya itu kini berbalik optimistis bisa meningkatkan wawasan dan pengetahuan para santrinya lewat teknologi modern itu.
Salah seorang santri Ponpes Nurul Qodim, Paiton, Probolinggo, Muhammad Said, mengaku gemetar ketika pertama kali membuka internet. "Saya tidak pernah tahu apa itu internet karena aturan pondok melarang kami berinternet," ujarnya saat menghadiri seminar tentang internet yang melibatkan 214 ponpes se-Jatim, di Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Surabaya, belum lama.

Wajar saja apabila Said terlihat terkagum-kagum melihat kehebatan teknologi komunikasi itu. Sosok Said hanyalah gambaran dari mayoritas ponpes di Jawa Timur yang lebih mengedepankan sisi buruk dibanding manfaat yang bisa diserap dari media bernama internet.

Para santri di lingkungan Pondok Pesantren Hudatul Muna-2 Ponorogo lebih beruntung. Sebab, menurut salah satu pengajarnya, Imam Muhtakim, sejak 2005 mereka sudah memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknologi Komputer Jaringan. "Santri kami lebih mengenal internet meski kami baru memiliki 15 komputer," ujarnya.

Tapi, karena keterbatasan wawasan, baru sebagian dari beragam manfaat saja yang bisa diambil dari dunia maya. "Kami ingin mengarahkan 200 santri kami, agar tidak menggunakan internet hanya sekadar gaya-gayaan khas anak muda, tapi untuk kemanfaatan yang lebih besar. Sebab, kami menggunakan Speedy yang sudah dilengkapi DNS (domain name serverred) Nawala yang berfungsi memblokir situs negatif, malware dan virus," ujarnya.

Ponpes yang beralamat di Jalan Yos Sudarso 2-B Jenes, Ponorogo, itu hanyalah salah satu dari 10 ponpes percontohan program insan goes to pesantren, yang digelar selama Ramadhan, 14 Juli-22 Agustus 2012. Selain Ponpes Hudatul Muna-2, ikut juga dalam program itu, Ponpes Nurul Ikhlas Sidoarjo, Ponpes Lirboyo Kediri, Langitan Tuban, Al Risalah Kediri, Azzahir Probolinggo, Anwarur Taufiq Batu, Darut Tauhid Genggong (Probolinggo), Nurul Haromain Malang, dan Ponpes Al Azhar Tulungagung.

Menurut Koordinator Program Radian Sigit, untuk tahap awal, perwakilan ponpes itu akan dilatih tentang live streaming, video dan radio streaming. Dalam program ini, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mendukung fasilitas akses internet Speedy 3 Mbps di setiap lokasi. "Kami sudah memberi pelatihan bagi 60 sukarelawan teknologi komunikasi dan informasi (TIK), yang akan masuk ponpes untuk memberikan pelatihan," ujarnya. Para santri dan pengasuh di berbagai ponpes itu nantinya diharapkan piawai memanfaatkan live streaming untuk memperluas pembelajaran. Layanan itu bisa diakses lebih nyaman karena Telkom memiliki layanan koneksi internet kecepatan tinggi (broadband) stabil dan andal melalui telepon rumah. Program yang disebut broadband ready itu merupakan salah satu terobosan BUMN tersebut untuk memberi kemudahan mengakses internet broadband.

Membuka Diri
Di tempat terpisah, Ketua III Relawan TIK Nasional Okky Tri Hutomo mengklaim, sekarang ini sudah saatnya komunitas ponpes untuk membuka diri terhadap internet. "Memang ada sisi negatif dari penggunaan internet, tapi itu tidak boleh membatasi para santri untuk mendapat lebih banyak kemanfaatan yang ditawarkan sebuah jaringan internet," ujarnya.

Berbeda dengan situs jejaring sosial yang pengelolanya bisa leluasa memblokir tiap akun yang dilaporkan kerap mengunggah hal negatif, situs yang lain memang terkesan lebih liar. Ironisnya, pihak yang situs negatifnya terblokir itu akan mengganti DNS-nya dengan nama lain. Imbasnya, secara kuantitas, jumlah web XXX itu justru makin beranak pinak.

Melalui pelatihan live streaming di lingkungan ponpes nanti, menurut Okky, wawasan dan pengetahuan para santri dan pengasuhnya, termasuk yang di wilayah pelosok, bakal makin bertambah. Bahkan menurut pengamatan Okky, saat ini makin banyak ponpes yang bisa membuat bangunan megah tanpa membebankan biayanya kepada para santrinya.

"Banyak donatur termasuk dari asing yang berminat membantu ponpes, setelah mengetahui lebih banyak ponpes yang profil dan kegiatannya ditayangkan dalam sebuah website," ujarnya. (Andira)

Sumber: Suara Karya, 23 Juli 2012
Repost: Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP-RMI-NU)
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: