Billboard Ads

P3M, Jakarta - Nahdlatul Ulama mengaku geregetan dengan kelompok radikal yang berkembang di Indonesia. Organisasi Islam itu mempertanyakan kepolisian yang masih melakukan pembiaran kepada kelompok tersebut.
"Kenapa membiarkan kelompok tersebut, NU saja geregetan. NU akan mendukung kepolisian menangkap kelompok radikal. NU dibelakang kepolisian," kata Ketua Umum NU KH Said Aqil Siradj dalam debat publik "Polisi, Politik dan Profesionalisme di Hotel Ambara, Jakarta, Selasa (5/7/2011).
Said mencontohkan kelompok Hibut Tahrir Indonesia yang menolak negara Indonesia dan telah dilarang di kawasan Timur Tengah. Namun di Indonesia, organisasi itu tetap dapat beraktivitas. "Kenapa polisi menginzinkan?," tanya Said.
Aqil yakin sebenarnya polisi mengetahui jaringan kelompok radikal seperti Negara Islam Indonesia (NII), jaringan wahabi atau jaringan Al-Qaeda di Indonesia. Namun dirinya tetap mempertanyakan mengapa polisi tidak menindak jaringan tersebut.
Aqil mencontohkan bahwa di setiap daerah banyak kelompok radikal yang masih beraktivitas seperti Surabaya, Cirebon, Solo dan Jakarta Selatan. "Apa polisi tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau tahu tapi dibiarkan," imbuhnya.
Aqil melanjutkan bahwa organisasi yang dipimpinnya sempat diobrak-abrik saat melakukan tahlilan di kota Magetan oleh aliran Wahabi. "Itu hampir bentrokan, wahabi itu aliran keras," katanya.
Selain itu dirinya juga mengatakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun Panji Gumilang adalah anggota DI/TII. "Panji Gumilang DI/TII kok polisi ga tahu, itu hanya kurikulum saja mengikuti Depag (Departemen Agama) karena membuka pesantren," tukasnya.

Sumber:  Tribun News, Selasa, 5 Juli 2011


By