Billboard Ads

P3M - Musim berburu teroris sedang bertalu-talu. Perburuan terhadap teroris terus digencarkan oleh aparat kepolisian lewat Densus 88. Penggerebekan demi penggerebekan terus dilakukan. Hingga kini masih ada DPO-DPO teroris yang belum tercokok. Kematian Osama bin Laden tak mengendurkan ”jihad” melawan terorisme. Toh, makin tersingkap masih banyaknya ”gerakan bawah tanah” kelompok teroris yang bersiap melancarkan aksinya. Ini pertanda bahwa teroris masih bercokol di negeri kita. Upaya ”sikat habis” teroris masih akan berlanjut.

Generasi Baru
Berbagai penemuan bom pada 2011 ini menunjukkan bahwa generasi baru pelaku aksi terorisme telah lahir di negeri ini. Lebih dari itu, berbagai kasus bom itu juga membuktikan bahwa Indonesia kini sudah menjadi medan perang baru bagi pelaku aksi terorisme. Ya, diakui bahwa jaringan terorisme terus tumbuh di Indonesia. Pertumbuhan jaringan terorisme kini bahkan melahirkan generasi baru dengan ideologi, modus, dan sasaran serangan yang bergeser bila dibandingkan dengan jaringan sebelumnya.
Mereka mengorganisasi diri dalam kelompok kecil, sebagian dengan bom rakitan sederhana dan sasarannya individual. Fakta ini didasarkan pada serangkaian aksi kekerasan selama 2011 bila dibandingkan dengan sejumlah kasus bom sebelumnya, khususnya sejak 2000. Pada 2000-2010 terjadi serangkaian aksi terorisme dengan berbagai bom dengan korban beragam dan berjumlah masal.
Sementara, selama 2011, ada bom buku yang dikirimkan kepada sejumlah orang di Jakarta dan Bogor, bom bunuh diri di Markas Polresta Cirebon dan bom di Serpong. Jaringan pelaku terorisme lama menjadikan Amerika Serikat dan kelompok nonmuslim sebagai musuh terdekatnya. Kini generasi pelaku terorisme baru menjadikan institusi pemerintah, TNI, Polri dan kelompok nonmuslim sebagai musuh terdekatnya.
Begitu pula jaringan teroris terus melakukan rekrutmen baru. Perekrutnya ditengarai adalah kelompok-kelompok pelaku teror yang selama ini belum tertangkap. Misalnya, kelompok Poso dan kelompok bom Bali I yang belum semuanya tertangkap. Kelompok-kelompok tersebut kabarnya pernah direkrut tersangka teroris Noordin M. Top dan merekrut anggota jaringan teroris baru cara klandestin, yakni gerakan tertutup, bawah tanah.
Tampak jelas bahwa ada pergeseran ideologi, organisasi dan modus aksi bom di Indonesia. Bom saat ini diyakini dilancarkan tanpa instruksi langsung dari organisasi besar, dikelola dalam kelompok kecil, dan mengincar sasaran lebih dekat, termasuk pejabat atau tokoh tertentu. Dalam beraksi, kelompok kecil itu bergerak sendiri secara leluasa.
Hal ini terjadi, antara lain, karena aparat keamanan menangkap tokoh dalam organisasi besar teroris. Sebagian anggotanya lantas membentuk kelompok kecil. Kelompok ini lebih sulit dideteksi. Meski tak ada kaitan langsung dengan organisasi besar, kelompok kecil jaringan terorisme itu merupakan aktivis ekstrem hasil didikan kelompok besar, seperti Pepi Fernando. Biasanya, pelaku bom beraksi dengan cara sendiri, tanpa atas nama organisasi besar.

Kebangkitan Wahabisme
Ajaran Wahabisme sudah cukup lama tersiar. Di Indonesia, gerakan bawah tanah ini sudah ada pada era 1970-an. Awalnya, ajaran Wahabisme digunakan sebagai ideologi negara di Kerajaan Arab Saudi guna memperkuat pertahanan menghadapi serangan musuh. Namun sayang, dalam perkembangan selanjutnya, gerakan ini menjadi liar dan sulit dikontrol pemerintah. Kabarnya, pemerintah Saudi sendiri akhirnya mencoret sekaligus melarang Wahabisme berkembang di negeri itu.
Upaya tersebut ternyata kurang ampuh menghentikan gerakan masif yang telanjur menyebar ke seluruh wilayah sekaligus menciptakan teror-teror yang meresahkan masyarakat. Semakin meluasnya ajaran Wahabisme tidak terlepas dari sokongan dana tidak terbatas berupa dana sosial dan zakat dari sederet orang kaya yang menjadi pengikutnya. Pengikut di Arab sendiri sangat besar, karena ideologi ini merupakan gerakan bawah tanah yang sangat masif. Sumber dananya juga tidak terbatas yang berasal dari dana sosial dan juga zakat dari orang kaya seperti Osama bin Laden.
Wahabisme menggunakan masjid dan juga sektor pendidikan untuk menyebarluaskan ajarannya. Dakwah serta dana pendidikan yang tidak terbatas itu kemudian dimanfaatkan untuk membawa pesan ideologi Wahabisme yang antinasionalisme dan membenarkan kekerasan. Tujuan mereka jelas, membuat negara-negara berpenduduk Islam menjadi negara yang berasaskan Islam.
Saat ini gerakan Wahabisme semakin berkembang di Indonesia dalam berbagai bentuknya. Dari sinilah tak berlebihan bila banyak yang mencemaskan kekerasan dan tindakan terorisme akan semakin merajalela.

Deradikalisasi
Tak pelak, semua komponen bangsa harus bergerak bersama, tak bisa semata bergantung pada pemerintah dan aparat saja. Gerakan tandingan berupa deradikalisasi perlu dilakukan oleh berbagai komponen bangsa ini. Ini jelas memerlukan suatu langkah nyata dalam membendung aksi radikalisme di Indonesia dengan melihat gejala-gejala di masyarakat yang dapat menumbuhkan benih radikalisme ini. Ormas-ormas maupun organisasi keagamaan dapat memberikan ide-ide baru dalam implementasi program deradikalisasi, mengingat masih banyaknya peluang-peluang gerakan radikalisme maupun terorisme yang dapat muncul di Indonesia.
Lewat gerakan deradikalisasi yang tepat akan mampu mengubah paham kekerasan menjadi perdamaian, gerakan bawah tanah menjadi di atas tanah, dan organisasi tertutup menjadi terbuka. Menghadapi pergeseran terorisme dalam kelompok kecil ini, kita berharap pemerintah dan aparat keamanan lebih jeli dan ketat dalam mendeteksi gejala terorisme. Deteksi sebaiknya dilakukan hingga tingkat bawah, seperti melalui rukun tetangga.
Kita juga makin sadar betapa pentingnya peran dunia pendidikan dalam membendung bibit-bibit baru radikalisme maupun terorisme. Banyak deteksi bahwa para pelaku terorisme mulai memfokuskan perekrutan anggota baru di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, maupun universitas. Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena perbedaan masalah ibadah dan lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ”tawuran” akibat dakwah model Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandang antarmuslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ”benih” atau ”cikal bakal” radikalisme.
Kita menjadi makin menyadari pentingnya program dakwah yang komprehensif dan menyentuh langsung ke masyarakat. Pendampingan bagi para takmir masjid dan juru dakwah dapat dijadikan sebagai alternatif program. Masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal perlu dilakukan ”sterilisasi” melalui penguatan aktivitas keagamaan yang berbasis pada pemahaman keislaman yang moderat. Semua ini dalam rangka menguatkan nilai-nilai karakter bangsa dan pemahaman Islam yang santun dan teduh.

Oleh KH. Said Agil Siraj, Ketua Umum Pengurus Besar NU (PB NU)

Sumber: Radar Jogja Online, 25 Mei 2011

By