Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Akulah Jibril, malaikat yang suka membagi bagikan wahyu. Aku suka berjalan di antara pepohonan, jika angin mendesir: itulah aku; jika pohon bergoyang: itulah aku; yang sarat beban wahyu, yang dipercayakan Tuhan ke pundakku. Sering wahyu itu aku naikkan seperti layang-layang, sampai jauh tinggi di awan, dengan seutas benang yang menghubungkannya; sementara itu langkahku melentur lentur melayang di antara batang pisang dan mangga.
Akulah Jibril, malaikat yang telah membagi bagikan wahyu kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad, Nabi Isa dan nabi-nabi yang lain, yang kedatanganku senantiasa ditandai gemerisiknya angin di antara pepohonan. atau padang pasir.
Wahyu adalah kalimat kalimat yang berat, namun ringan jinjingannya. Itulah, makanya telah kunaikkan ia sebagai layang layang ke bawah, manakala kulihat ada anak yang sulit berpikir, pada kepalanya, ya pada kepalanya, maka kagetlah ia sambil meraba kepalanya, ia menengok-nengok ke atas. Kemudian. anak itu akan terbuka kembali pikirannya, sehingga bisa menjawab soal-soal di kelas nantinya.
Akulah Jibril, yang pada suatu hari melihat sebuah sekolah dasar yang anak-anaknya sedang mampat pikirannya, maka kutukikkan layang-layangku seperti hendak menyerbu layang layang yang lain, tepat di tengah atap itu: brag-brag kada brag beberapa genting kuperintahkan jatuh, tentu saja kubikin tidak mengenai mereka, melainkan kepingan-kepingan itu biarlah jatuh di lantai saja. Mereka jadi terkejut, semuanya menengok ke atas yang tanpa langit-langit itu, hingga lubang yang menganga itu menghantarkan sinar matahari ke dalam. Setelah itu kukirimkan hujan khusus lewat lubang atap itu. Mereka bubar keluar.
Di halaman sekolah guru dan murid-murid itu terheran heran memandang ke langit. Bagaimana mungkin ada hujan setempat yang begitu kecil, demikian mereka saling berkata, yang semuanya kusambut dengan tersenyum saja. Yang menyenangkan adalah pikiran guru dan murid-murid itu  menjadi segar dan kemudian mereka ramai-ramai belajar di sebuah bukit yang rimbun di seberang halaman sekolah. Sebenarnya itulah yang kukehendaki. Mengapa mesti belajar di dalam kelas saja? Apakah padang rumput yang luas itu bukan kelas?
Ketika tukang kebun yang diberi tahu untuk mengganti genting yang pecah itu datang ke dalam kelas, ia hanya tertegun saja: “Mana genting yang pecah yang harus kuganti? Mana lantai yang kotor yang harus kusapu?” begitu gerutunya. Tentu saja ia bergumam terus, sebab memang tidak ada sesuatu pun yang tidak beres di dalam kelas itu. Segalanya baik-baik saja, sebab ketika mereka berbondong-bondong ke bukit, buru-buru aku ganti genting yang pecah itu, dan aku sapu lantai yang kotor oleh kepingan-kepingan itu.
Ketika mereka kembali ke atas mau berkemas-kemas pulang, mereka juga melihat­lihat sekelilingnya dan tentu saja mereka mengira tukang kebun yang mengerjakannya. Guru itu menghampiri tukang kebun:
        “Cepat juga babak bekerja.”
        “Ala bisa karena biasa.”
Begitu jawab tukang kebun yang suka berpantun dan berperibahasa itu. Sebuah jawaban sambil lalu, hanya untuk mempercepat pembicaraan, meskipun di sela-sela ucapannya itu ada bundelan keheranan yang makin bertambah-tambah saja. Bagi saya tentu saja itu sebuah jawaban yang bagus; maka kubisikkan ke telinganya;
“Itu jawaban yang bagus, pak,” yang membuat ia terkejut dan menengok sekeliling mencari siapa gerangan yang bersuara cuma, rupa tidak ada. Tukang kebun itu buru-buru menghindar.
Akulah Jibril, yang angin adalah aku, yang embun adalah aku, yang asap adalah aku, yang gemerisik adalah aku, yang menghantar panas dan dingin. Aku mengirimkan kesejukan, pikiran segar yang mengajak giat belajar. Akulah yang menyodorkan keheranan sekaligus jawaban. Aku di kebun rimbun, aku di padang pasir, aku di laut,  aku di gunung, aku di udara, kukirimkan layang-layangku kepadamu, kepada kalian. Di waktu kalian giat belajar, sebenarnya aku di sisimu, benar-benar di sisimu, sekarang ini juga. Akulah yang mengelus lidah anak-anak kelas nol besar, supaya tidak kelu waktu membaca dan menyanyi.
Akulah Jibril, yang pada suatu malam mendatangi tukang kebun itu dalam mimpi. Kukatakan kepadanya bahwa aku ingin bermain dengan anak-anak semuanya. Ketika ia bangun kira kira jam tiga malam, ia termangu-mangu duduk di tempat tidur. Istrinya acuh tak acuh melihat dia, sambil menggeliat mem-balikkan tubuhnya dan tidur lagi. Sementara tiga orang anaknya lelap sekali.
Pagi, harinya ia menemui guru sekolah dan mengatakan bahwa Jibrillah yang memecahkan genting dan menggantinya kemarin dan menggantinya sendiri. Guru itu mengira tukang kebun ini sedang mengigau.
Lalu siang hari ia pergi ke bukit, membikin jaring dari sabut kelapa yang dipilinnya kecil-kecil merupakan tali-tali panjang. Tentu saja aku diam-diam membantunya, yaitu mencarikan sabut kelapa di sana-sini. Selama satu minggu siang malam jaring itu dikerjakannya. Sebagai imbalannya, tanaman ubi dan singkongnya kutiup menjadi besar-besar. Pada hari kedelapan dipasanglah jaring itu di bukit. Ketika guru dan murid murid yang telah membiasakan belajar di alam terbuka melihat tukang kebun sendirian semuanya mendekat.
        “Jaring ini untuk, apa Pak?”
        “Untuk menjaring malaikat.”
        “Malaikat?”
        Ya. malaikat.”
        “Benar?”
        “Benar.”
        “Boleh kami bantu, pak?”
        “Boleh, boleh. Tentu saja. Malah setelah itu kalian akan saya ajak menunggu jaring ini.”
        “Kenapa mesti ditunggu?”
        “Sebentar lagi Jibril akan genteyongan terperangkap   jaring ini.”
        “Jangan berlebihan, Pak!”
         “Bicaraku tidak melebih-lebihkan. Apa adanya saja. Jika kalian percaya silakan. Tak percaya, silakan. Aku ajak kalian hari ini untuk bersenang-senang.”
        “Jika Jibril tertangkap apakah ia tak mampu melepaskan diri, sedang ia seorang malaikat?”
        “Tidak mungkin. Karena sayapnya akan kurenggut.”
        “Jadi dia punya sayap?”
        Guru itu cuma tersenyum saja: “Bapak sedang mimpi,” katanya lirih dan yang dijawab oleh tukang kebun itu: “Ini nyata.”
Setelah sekolah usai, semua anak ternyata punya minat terhadap usaha menjaring malaikat itu. Hanya guru itu saja yang terus pulang. Lalu mereka mengendap melingkari jaring itu.
Akulah Jibril yang angin, seketika terpancang jaring itu kuat-kuat, aku terus menubruknya. Tersangkutlah aku di dalamnya. Sayapku juga terjerat kukuh. Maka bergenteyongan-lah aku seperti sedang main ayun-ayunan. Mula-mula anak-anak itu terbengong-bengong menatapkan, seperti menatap burung dalam sangkar. Yang membuatku merasa aneh adalah ternyata mereka tidak takut kepadaku. Kini aku telah benar-benar ngejawantah.
Tiba-tiba bersoraklah semua anak-anak itu mengelilingiku. Mereka bernyanyi beramai ramai:
        Wahai Jibril!
        Yang suka nubruk-nubruk.
        Anda kemarin memecahkan genting kelas kami.
        Sekarang anda terjaring.
        Cobalah lari.
        Cobalah lari.
Begitu kalimat nyanyinya dan diulang ulangnya terus.
Akulah Jibril, yang kemudian merasa geli dan heran.
Mereka begitu saja bisa menciptakan nyanyian baru. Juga mereka memanggilku “anda”, kenapa tidak ber”engkau” saja. Aku menjawab nyanyian mereka dengan nyanyian yang kuciptakan secara tiba-tiba juga:
        Wahai kamu
        Kamu toh tak mungkin
        menjaring malaikat.
        Wahai kamu
        Kamu toh tak mungkin
        menjaring angin.
        Akulah Jibril
        Akulah angin
Mereka kemudian bergandengan dan tetap melingkari terus. Nyanyi mereka tambah keras:
        Silakan lari
        Silakan lari
Aku menjawab:
        Jika jaring kukais
        Kalian pasti menangis
Mereka pun menjawab
        Silakan kais
        Silakan kais
…. dan mereka pun, terbahak-bahak melirikku.
Tukang kebun itu berteriak: “Tak kukira mimpiku jadi nyata.” Ia pun ikut menari-nari.
Akulah Jibril, yang saat ini benar benar-benar merasakan kegembiraan. Bermain dengan anak-anak memang jarang. Biasanya tugasku berat saja adanya. Tetapi akulah angin yang harus beredar terus, ke seluruh bumi. Ke semua tempat-tempat lapang, juga tempat-tempat yang tersembunyi.
Sementara mereka masih menari dan menyanyi terus, kutinggalkan mereka dan kuganti tubuhku dengan seonggok daun pisang kering. Sebelum benar-benar pergi aku ingin melihat mereka kaget. Setelah mereka melihat jaring itu kembali dan isi di dalamnya yang sebenarnya, mereka melongo dan satu-satu menangis.
Aku tersenyum pergi.
Akulah Jibril, akulah angin, akulah daun-daun kering, tak mungkin kutinggalkan mereka anak-anak manis, begitu saja tanpa memberinya apa-apa sebagai tanda kasih sayang.
Esok harinya, seluruh sekolah itu tercengang, ketika mereka melihat layang-layang yang kukaitkan semalam di atap tinggi dengan benang panjang sekali. Siapa saja boleh. membiarkan layang-layang itu sepanjang masa terkait di situ atau mengambilnya menjadi  miliknya. Terserah.
Jakarta, 11 Maret 1975.

Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat 

dalam Kumpulan Cerita Pendek Adam Ma’rifat – Karya Danarto

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...